Kamis, 26 Oktober 2017

Casting soft plastic ala yogyakarta

Casting soft plastic ala yogyakarta

Tadinya saya berpikir, bahwa pemancing yang paling fanatik dengan cara memancing model kasting untuk wilayah Jawa Tengah hanyalah pemancing Gombong saja. Ternyata pendapat saya berubah setelah bertemu pemancing-pemancing Yogya yang sering mancing di Pantai Baron, Wonosari. Casting di sini lebih khusus diartikan sebagai memancing dengan umpan palsu. Berikut ini merupakan cerita ketika pertama kalinya saya mengenal soft plastic dan belum banyak pemancing yang memakainya. Kejadian di bawah ini kira-kira terjadi di tahun 1995-an.
Untuk mengobati rasa penasaran itu saya mengadakan janji dengan pemancing-pemancing Yogya yaitu Isiang pemilik Toko Besi Sandean di Piyungan dan Pak Ujang alias Lokjang (akhir-akhir ini Pak Ujang sudah bisa membikin soft konahead sendiri) untuk memancing bersama ke Baron. Ternyata saya masih belum punya joran khusus untuk kasting soft plastic, yaitu joran jenis very-very light tackle. Ternyata joran yang sudah siap pakai belum tersedia di toko, jadi kita harus merakitnya dulu. Waktu itu joran yang cocok cuma ada di Toko Rapi yang ada di Klaten. Joran yang dimaksud adalah joran tegeg ukuran minimal 2,7 m dengan action hard tapi kelas kenur kecil. Kemudian kita juga membutuhkan dudukan ril yg bisa ditempel di gagang joran yang bentuknya seperti lempengan. Dudukan itu diikat di batang bawah ril. Kemudian ditambahkan juga kolongan / memarit untuk joran teleskopik, yang dudukan diameternya disesuaikan dengan diameter tiap ruas joran tegeg tersebut. Untuk mengikatnya digunakan senar nilon khusus, setelah diikat kemudian di-finishing dengan pernis untuk memperkuat ikatannya. Jadilah sudah joran very-very light tackle.
Untuk penggulungnya, dapat digunakan Spinning ril paling kecil yang ada di pasaran. Misalnya Shimano versi 500, Daiwa versi Spinmatic atau versi 1 kelas di atasnya.

Sebenarnya ukuran penggulung tidak mutlak, yang mutlak adalah ukuran kenurnya yang cuma berukuran 2 lb dan tidak boleh lebih dari itu. Maka harus dipilih merek paling bagus untuk kenurnya, yaitu Goldenstring atau Siglon. Merek-merek ini adalah yang tersedia di Yogyakarta. Mungkin kalau ada Maxima atau Ande, mereka akan membelinya juga. Nah sekarang saya sudah punya perangkat kerasnya, masalah umpan alias lure-nya nanti akan diungkap di Baron aja. Selain peralatan very-very light ini saya juga disarankan untuk membawa joran untuk kasting di karang berikut rilnya, karena ternyata ada versi lain untuk kelas heavy-nya.

Berangkat dari Magelang Sabtu sore jam 14.00-an karena acara mancing adalah di hari Minggu. Saya sampai di Piyungan, di Toko Besi Sandean milik Isiang jam 17.00-an. Di sana sudah ada Pak Ujang. Setelah memarkir mobil sedan saya di garasi Isiang, kami bertiga cabut ke Baron menggunakan Chevrolet pick-up double gardan milik Isiang. Perjalanan dari Piyungan naik turun bukit dan berbelok-belok. Jarak yang cuma 40an km harus ditempuh selama 1,5 jam. Baron dapat dicapai melalui kota Wonosari dulu baru kemudian berbelok ke kanan dan mengikuti tanda-tanda yang menunjukkan arah ke tempat rekreasi Baron dan Kukup yang sudah ngetop dan merupakan pantai andalan Pemda Gunung Kidul.
Sampai di Baron kami menginap di tempat nelayan langganan kami yang bernama Bandot (memang mirip bandot orang ini karena dia memelihara jenggot ala kambing). Dia terkenal sangat jago dalam 'memandu acara trolling di perairan Wonosari. Sebenarnya waktu sore hari adalah saat yang tepat untuk kasting, tapi karena sudah kemalaman ya sudahlah kami langsung saja ngobrol di tempat Pak Bandot. Walau cuma beralaskan tikar dan tidur di dipan tanpa kasur, kami pun bisa menghabiskan malam tanpa hiburan itu dengan hanya ngobrol saja, karena Pak Bandot ternyata tidak mempunyai TV. Sayang suasana yang tenteram itu harus diganggu oleh nyamuk yang banyak sekali, hingga kita terpaksa harus dekat obat nyamuk bakar kalau tak ingin tubuh kita bentol-bentol. Waktu itu obat nyamuk oles belum ada.

Jam 04.00 pagi kami sudah bangun. Inilah saatnya untuk melihat rahasia rangkaian soft plastic mereka. Waktu itu belum dikenal soft plastic ala TV Media yang katanya manjur. Mereka menggunakan lem akuarium yang bermerk Dupont atau kalau tidak ada bisa menggunakan merek yang lain asalkan warnanya putih kebeningan. Cara pembuatannya adalah lem akuarium dilapiskan di kaca secara agak tebal. Setelah kering barulah diambil. Lem akuarium kering yang berbentuk bungkahan tapi sangat elastis itu kemudian diiris tipis-tipis memanjang. Untuk light tackle, paling tebalnya cuma 3 mm dan panjangnya 2 cm saja.
Setelah saya perhatikan betul-betul warna nya yang bening transparan dan bentuknya yang kecil, soft plastic jadi mirip sekali dengan impun (istilah Jogja untuk ikan-ikan atau udang kecil yang warnanya transparan dan merupakan makanan utama bagi anak ikan).
Untuk mata kailnya digunakan mata kail yang berleher lurus (regular shank), bukan model bagongan (short shank) karena model lurus memudahkan untuk memasukkan soft plastic nantinya. Untuk yang light tackle gunakan nomor 6-8 sedang yang lebih besar lagi menyesuaikan dengan ikan yang akan dipancing.

Tali pandu atau lider (leader) ternyata bagian yang sangat spesial. Lider sangatlah panjang dan disesuaikan dengan panjang joran. Karena joran tegeg yang dulunya saya beli adalah sepanjang 2,7 meter, maka panjang lider pun dibikin sepanjang 2,5 meter. Bahan lider adalah kenur monofilament biasa yang bediameter maksimum 0,20 mm, sebisa mungkin dipilih yang sekecil mungkin diameternya karena semakin kecil diameter maka semakin efektif pula soft plastic yang digunakan. Mengapa demikian ? Karena semakin kecil diameter lider, bobotnya menjadi semakin ringan dan dengan begitu hambatan angin menjadi kecil, sehingga lemparan pun bisa semakin jauh. Dengan tali lider yang kecil, action umpan tiruan di dalam air pun menjadi sangat bagus karena kenur lider menjadi lemas dan sangat fleksibel.

Antara lider dan kenur utama disambung dengan kili-kili alias swivel yang besarnya mengikutl besarnya diameter kenur yang dlpakai. Di atas swivel dipasangin timah pemberat tipe barrel alias bulat memanjang tipe C. Pemberat ini bergerak bebas, stopper-nya cuma kill,kili di bawahnya saja. Pemberat ini berfungsi untuk membawa umpan soft plastic supaya bisa dilempar ke kejauhan. Sebab semakin jauh lemparan, daerah yang di-cover akan semakin lebar dan kemungkinan disambar ikan pun semakin besar pula.

Selesailah sudah tahap rigging (perangkaian) komponen peralatan mancing soft plastic. Setelah bersiap-siap, jam 05.00 pagi kami pergi ke Pantai Baron dan mengambil lokasi di sisi sebelah barat. Di sisi sebelah barat ada sebuah sungai air tawar kecil yang keluar dari sebuah gua bawah tanah. Adanya sungai air tawar kecil ini ternyata membuat ikan-ikan kecil berkumpul di situ karena banyaknya makanan yang ikut mengalir keluar. Nah, ternyata kita tidak kasting di pantainya, tetapi di sungai kecil itu. Di dasar sungai itu terdapat banyak bebatuan sehingga sangat sukar bagi nelayan untuk menebarkan jalanya sehingga habitat ikan di situ selama ini bisa dianggap tidak tersentuh tangan-tangan manusia.

Casting dilakukan dengan melemparkan umpan tiruan itu ke hulu dan ditarik melawan arus. Baru saja kulakukan lemparan ke tiga sudah terasa sambaran, tapi sayang tidak hook-up dengan baik. Pada lemparan ke lima barulah hook-up dengan baik. Ternyata ikannya adalah anakan ikan kuwe seukuran telapak. Dengan piranti yang sangat kecil dan ringan itu diperlukan waktu yang lumayan lama untuk meminggirkannya. Kuwe-kuwe kecil ini ternyata setelah sampai di darat akan keluar suara khas ”kok-kok-kok” dari mulutnya. Sehingga teman-teman menamakannya mancing ala Tiongkok-an. Ternyata tidak hanya ikan kuwe kecil yang bisa makan soft plastic ini ada juga kakap merah (red snapper) kecil, kerong-kerong (fingermark) kecil walau kebanyakan yang tertangkap adalah kuwe-kuwe kecil itu.

Setelah dirasa cukup, kami kemudian membawa ikan-ikan perolehan kami kembali ke rumah Pak Bandot untuk dijadikan lauk sarapan pagi. Ternyata ikan kuwe sebesar telapak tangan sangat enak sekali, apalagi yang baru saja terpancing. Selesai sarapan, kami kemudian kembali mancing tetapi di lokasi yang lebih jauh dan ikannya lebih besar-besar.

Sore harinya kami merencanakan untuk memancing ke lokasi lebih ke selatan lagi dari Teluk Baron. Peralatan yang dibawa adalah joran karang biasa dan spinning ril-nya sekalian. Rangkaian soft plastic-nya sama dengan yang light tackle hanya ukurannya kali ini lebih besar semua. Di samping irisan lem akuariumnya lebih besar dan tebal serta diameter lidernya lebih besar, barrel striker-nyapun lebih berat.

Perjalanan kali ini lebih jauh, harus melewati sebuah bukit barulah sampai di lokasi yang ternyata adalah suatu karang setinggi sekitar tiga meter dari atas permukaan air. Dari pantai Baron kelihatannya dekat, tetapi ternyata setelah ditempuh dengan berjalan kaki menimbulkan keringat yang banyak juga. Ternyata di situ sudah banyak orang yang mancing. Rata-rata mereka mancing model jebluk (dasar) tetapi ada juga yang casting pakai pentil dan tali rafia. Sudah ada yang menaikkan ikan yaitu ikan kuwe ukuran 1-2 kiloan dan ada juga yang memperoleh ikan yang oleh penduduk setempat disebut kacangan (tongkol karasan).

Kami melakukan kasting cuma sebentar saja tetapi sudah cukup memuaskan mengajar kuwe-kuwe seukuran 1-2 kg. Apalagi sebentar lagi sudah mulai gelap dan kami lupa membawa senter.

Cerita ini cuma ilustrasi saja bahwa sudah lama pemancing di sini mengenal soft plastic. Ide ini ternyata pengembangan dari umpan pentil ataupun rafia. Sekarang, dengan adanya penyebaran informasi yang sangat cepat, lem akuarium sudah mulai ditinggalkan dan pemancing sudah mulai memakai soft plastic betulan yang dijual di Amerika atau negera-negara lainnya. Casting soft plastic pun sudah tidak hanya terpancang di Baron saja dan sudah menyebar kemana-mana, termasuk ke Manganti sekali pun.

Dengan adanya soft plastic ini, bagi anda yang mungkin merasa sayang untuk membeli minnow yang harganya mahal-mahal, bisa menggantikannya dengan lure model ini. Tingkat keefektifannya pun tidak kalah. Tinggal keyakinan kita masing-masing saja untuk mencobanya.

Selesai

Tidak ada komentar: