Sabtu, 28 Oktober 2017

Spot pinggir rel kereta, tuntang, rwp

Sungai agak keruh, semalam hujan

Mahseer kali progo

Mancing cumi-cumi

Mancing cumi-cumi

Mancing cumi-cumi menyenangkan sebagai selingan ketika sedang mancing dasar, atau mancing dari dermaga saat liburan di pulau. Jika berkeinginan lain, mancing cumi-cumi juga bisa dilakukan dengan cara troling.

Pantai berkarang, bagan-bagan tancap, dan area dengan terumbu karang dangkal, baik di tubiran pulau maupun di tengah laut memang sangat berpotensi dihuni cumi-cumi. Bahkan bisa dibilang, asal ada ikan karang pasti akan ada pula cumi-cumi. Tapi dengan catatan, perairan tersebut bebas sampah dan polusi dari daratan.

Khusus di Kepulauan Seribu tempat-tempat ideal seperti di atas bisa ditemui di pantai dan dermaga Pulau Untung Jawa, Rambut, Ayer, Damar dan terus ke atas lagi. Namun di dermaga Tanjung Kait di pinggir Jakarta dan pantai karang sepanjang Merak, Anyer, hingga Carita juga masih menyisakan adanya cumi-cumi.

Sebaiknya urungkan niat untuk mancing jika kondisi air kotor, apalagi dipenuhi sampah-sampah kota yang mengambang. Begitu pula bila arus terlalu kuat, atau air laut pada malam hari keruh dan tampak menyala hijau akibat terlalu banyak pelepasan fosfor. Waktu terbaik untuk mancing ialah malam hari saat bulan purnama, sehingga kita tidak memerlukan lampu penerangan lagi. Namun bila ingin cumi-cumi dapat terkonsentrasi dan berkumpul di satu area, mancinglah saat gelap bulan dan gunakan sejumlah lampu petromaks atau lampu sorot di pinggiran perahu, atau di sekitar lampu penerangan di dermaga atau pantai.

Mancing cumi-cumi dapat pula dilakukan pada siang hari, namun terbatas di perairan karang yang agak dalam sehingga cahaya sulit menembus, atau di area yang lebih dangkal pada saat sinar matahari cukup teduh. Dua jam menjelang matahari terbenam dan setelah terbit fajar juga waktu yang ideal untuk mancing cumi-cumi.

Piranti dan Umpan

Piranti yang cocok untuk mancing cumi-cumi ialah joran dan ril spining dari jenis yang murahan. Ukurannya tak perlu besar-besar, bahkan kenikmatan maksimal bisa didapat jika joran, ril dan kenur yang dipakai terbatas kelas 2 atau maksimum 3 kg.

Ciri khas mancing cumi-cumi ialah umpannya yang menyerupai udang dan dilengkapi dengan pancing/kail tanpa kait (barbless) terpasang melingkar seperti jari-jari payung.

Umpan yang biasa disebut udang-udangan ini banyak dijual di toko pancing dengan berbagai merek. Ada yang impor buatan pabrik maupun hasil kerajinan tangan nelayan.

Sebaiknya sediakan umpan dengan beragam ukuran, bobot, dan warna. Biasanya ukuran umpan ditentukan dengan mengacu pada ukuran cumi-cumi yang tertangkap atau tampak berkeliaran di sekitar lokasi. Perlu diketahui, cumi-cumi tak pernah gentar pada umpan yang berukuran lebih besar dari badannya, namun umpan yang lebih kecil umumnya akan lebih cepat menghasilkan sambaran.

Perhatikan juga timah yang terdapat di bawah badan umpan. Timah pemberat berfungsi untuk mempermudah lontaran dan membuat umpan tetap berenang pada posisi tegak, serta untuk menentukan kedalaman berenang umpan.

Umpan seharusnya dapat menyelam di kedalaman yang sesuai dengan tempat keberadaan cumi-cumi. Warna yang banyak disukai biasanya merah muda kemerahan (pink to red) dan jingga kemerahan (orange to red). Tapi di perairan lain bisa jadi warna kesukaannya berbeda.

Lempar Gulung

Cara paling populer untuk mancing cumi-cumi di perairan dangkal ialah dengan teknik lempar gulung (cast and reel). Namun sebelum melontar umpan, untuk menghemat waktu dan tenaga sebaiknya pastikan dulu letak keberadaan cumi-cumi yang akan dipancing.

Pada siang hari yang cerah, cumi-cumi biasanya akan terlihat sebagai noktah-noktah hitam yang bergerak dengan perlahan. Namun sebaliknya di malam hari, cumi-cumi justeru akan terlihat sebagai noktah berwarna putih yang terus bergerak-gerak mendekat ke pusat cahaya lampu.

Cumi-cumi yang berani berkeliaran sampai ke dekat dermaga atau perahu biasanya berukuran kecil hingga sebaiknya tidak usah dipancing, kalau bisa langsung diserok saja dengan cepat.

Lain halnya dengan cumi-cumi besar yang bobot per ekornya berkisar 100-500 gr. Biasanya selalu lebih waspada di kejauhan dan di kedalaman.

Lontarkan umpan jauh ke tengah atau sebatas terangnya cahaya lampu. Selanjutnya putar penggulung secara konstan dan sangat perlahan. Rasakan baik-baik apakah seperti ada sesuatu yang tersangkut atau malah menarik kenur. Cumi-cumi biasanya mengikuti umpan terlebih dulu sebelum akhirnya menerkam.

Cumi-cumi besar yang terkait melawan dengan menarik umpan, sementara yang lebih kecil akan terseret sehingga terasa seperti sedang menyeret sampah, namun diselingi gerakan menyentak.

Menangani perlawanan cumi-cumi sangat mudah, namun harus ekstra hati-hati. Tingkatkan kewaspadaan saat menggulung kenur. Usahakan kenur tetap dalam keadaan tegang dengan cara menjaga kelengkungan joran.

Lepasnya cumi-cumi yang telah terkait umumnya disebabkan karena kenur sempat kendur, pancing mengait tipis di tentakel, atau cumi-cumi tersebut disambar ikan predator.

Perhatikan ukuran cumi-cumi yang terpancing, apakah bisa langsung diangkat atau harus menggunakan seser. Hati-hati terhadap semprotan cairan tinta yang bisa mengarah tepat ke muka dan mengotori pakaian.

Melepas cumi-cumi yang terkait bisa dilakukan dengan cara mudah, yakni dengan memutar secara vertikal udang-udangan hingga kepala umpan mengarah ke bawah. Cumi-cumi pasti akan lepas dengan sendirinya. Hati-hati pula terhadap gigi cumi-cumi yang mirip paruh burung kakak tua dan mampu melukai tangan.

Kotrek dan Troling

Selain dengan teknik lempar-gulung, mancing cumi-cumi bisa dilakukan dengan kotrekan dan juga troling.

Kotrek biasanya dilakukan di perairan yang agak dalam, yaitu dengan menempatkan beberapa . umpan pada rangkaian pancing jebluk. Turunkan umpan hingga ke dasar. Selanjutnya angkat dan turunkan joran sampai terasa ada sambaran.

Penempatan umpan dapat bervariasi dari dasar terus naik hingga ke tengah kedalaman laut. Karena penetrasi cahaya sangat rendah, pada malam hari sebaiknya gunakan umpan yang dicat dengan bahan mengandung posfor. Jangan lupa, sinari dulu umpan sebelum diturunkan.

Alternatif lain yang hasilnya juga efektif ialah menempatkan umpan yang dilengkapi lampu atau  dapat diisi stik fosfor yang dapat menyala jika dibengkokkan.

Troling dengan perahu dayung kapasitas dua orang seperti yang digunakan nelayan pancing -dengan maupun tanpa joran akan efektif bila digunakan pada saat cuaca sangat bagus, yaitu angin bertiup perlahan, kondisi perairan sangat jernih, dan bulan sedang bersinar penuh.

Tempatkan dua sampai empat umpan sekaligus di belakang perahu, dan ulur kenur sepanjang 10-20 meter. Kayuh perahu perlahan sepanjang garis pantai. Karena cumi-cumi selalu terkait dengan sempurna, teknik troling sangat efektif dan produktivitasnya juga sangat memuaskan. ***

Selesai

Kamis, 26 Oktober 2017

Casting soft plastic ala yogyakarta

Casting soft plastic ala yogyakarta

Tadinya saya berpikir, bahwa pemancing yang paling fanatik dengan cara memancing model kasting untuk wilayah Jawa Tengah hanyalah pemancing Gombong saja. Ternyata pendapat saya berubah setelah bertemu pemancing-pemancing Yogya yang sering mancing di Pantai Baron, Wonosari. Casting di sini lebih khusus diartikan sebagai memancing dengan umpan palsu. Berikut ini merupakan cerita ketika pertama kalinya saya mengenal soft plastic dan belum banyak pemancing yang memakainya. Kejadian di bawah ini kira-kira terjadi di tahun 1995-an.
Untuk mengobati rasa penasaran itu saya mengadakan janji dengan pemancing-pemancing Yogya yaitu Isiang pemilik Toko Besi Sandean di Piyungan dan Pak Ujang alias Lokjang (akhir-akhir ini Pak Ujang sudah bisa membikin soft konahead sendiri) untuk memancing bersama ke Baron. Ternyata saya masih belum punya joran khusus untuk kasting soft plastic, yaitu joran jenis very-very light tackle. Ternyata joran yang sudah siap pakai belum tersedia di toko, jadi kita harus merakitnya dulu. Waktu itu joran yang cocok cuma ada di Toko Rapi yang ada di Klaten. Joran yang dimaksud adalah joran tegeg ukuran minimal 2,7 m dengan action hard tapi kelas kenur kecil. Kemudian kita juga membutuhkan dudukan ril yg bisa ditempel di gagang joran yang bentuknya seperti lempengan. Dudukan itu diikat di batang bawah ril. Kemudian ditambahkan juga kolongan / memarit untuk joran teleskopik, yang dudukan diameternya disesuaikan dengan diameter tiap ruas joran tegeg tersebut. Untuk mengikatnya digunakan senar nilon khusus, setelah diikat kemudian di-finishing dengan pernis untuk memperkuat ikatannya. Jadilah sudah joran very-very light tackle.
Untuk penggulungnya, dapat digunakan Spinning ril paling kecil yang ada di pasaran. Misalnya Shimano versi 500, Daiwa versi Spinmatic atau versi 1 kelas di atasnya.

Sebenarnya ukuran penggulung tidak mutlak, yang mutlak adalah ukuran kenurnya yang cuma berukuran 2 lb dan tidak boleh lebih dari itu. Maka harus dipilih merek paling bagus untuk kenurnya, yaitu Goldenstring atau Siglon. Merek-merek ini adalah yang tersedia di Yogyakarta. Mungkin kalau ada Maxima atau Ande, mereka akan membelinya juga. Nah sekarang saya sudah punya perangkat kerasnya, masalah umpan alias lure-nya nanti akan diungkap di Baron aja. Selain peralatan very-very light ini saya juga disarankan untuk membawa joran untuk kasting di karang berikut rilnya, karena ternyata ada versi lain untuk kelas heavy-nya.

Berangkat dari Magelang Sabtu sore jam 14.00-an karena acara mancing adalah di hari Minggu. Saya sampai di Piyungan, di Toko Besi Sandean milik Isiang jam 17.00-an. Di sana sudah ada Pak Ujang. Setelah memarkir mobil sedan saya di garasi Isiang, kami bertiga cabut ke Baron menggunakan Chevrolet pick-up double gardan milik Isiang. Perjalanan dari Piyungan naik turun bukit dan berbelok-belok. Jarak yang cuma 40an km harus ditempuh selama 1,5 jam. Baron dapat dicapai melalui kota Wonosari dulu baru kemudian berbelok ke kanan dan mengikuti tanda-tanda yang menunjukkan arah ke tempat rekreasi Baron dan Kukup yang sudah ngetop dan merupakan pantai andalan Pemda Gunung Kidul.
Sampai di Baron kami menginap di tempat nelayan langganan kami yang bernama Bandot (memang mirip bandot orang ini karena dia memelihara jenggot ala kambing). Dia terkenal sangat jago dalam 'memandu acara trolling di perairan Wonosari. Sebenarnya waktu sore hari adalah saat yang tepat untuk kasting, tapi karena sudah kemalaman ya sudahlah kami langsung saja ngobrol di tempat Pak Bandot. Walau cuma beralaskan tikar dan tidur di dipan tanpa kasur, kami pun bisa menghabiskan malam tanpa hiburan itu dengan hanya ngobrol saja, karena Pak Bandot ternyata tidak mempunyai TV. Sayang suasana yang tenteram itu harus diganggu oleh nyamuk yang banyak sekali, hingga kita terpaksa harus dekat obat nyamuk bakar kalau tak ingin tubuh kita bentol-bentol. Waktu itu obat nyamuk oles belum ada.

Jam 04.00 pagi kami sudah bangun. Inilah saatnya untuk melihat rahasia rangkaian soft plastic mereka. Waktu itu belum dikenal soft plastic ala TV Media yang katanya manjur. Mereka menggunakan lem akuarium yang bermerk Dupont atau kalau tidak ada bisa menggunakan merek yang lain asalkan warnanya putih kebeningan. Cara pembuatannya adalah lem akuarium dilapiskan di kaca secara agak tebal. Setelah kering barulah diambil. Lem akuarium kering yang berbentuk bungkahan tapi sangat elastis itu kemudian diiris tipis-tipis memanjang. Untuk light tackle, paling tebalnya cuma 3 mm dan panjangnya 2 cm saja.
Setelah saya perhatikan betul-betul warna nya yang bening transparan dan bentuknya yang kecil, soft plastic jadi mirip sekali dengan impun (istilah Jogja untuk ikan-ikan atau udang kecil yang warnanya transparan dan merupakan makanan utama bagi anak ikan).
Untuk mata kailnya digunakan mata kail yang berleher lurus (regular shank), bukan model bagongan (short shank) karena model lurus memudahkan untuk memasukkan soft plastic nantinya. Untuk yang light tackle gunakan nomor 6-8 sedang yang lebih besar lagi menyesuaikan dengan ikan yang akan dipancing.

Tali pandu atau lider (leader) ternyata bagian yang sangat spesial. Lider sangatlah panjang dan disesuaikan dengan panjang joran. Karena joran tegeg yang dulunya saya beli adalah sepanjang 2,7 meter, maka panjang lider pun dibikin sepanjang 2,5 meter. Bahan lider adalah kenur monofilament biasa yang bediameter maksimum 0,20 mm, sebisa mungkin dipilih yang sekecil mungkin diameternya karena semakin kecil diameter maka semakin efektif pula soft plastic yang digunakan. Mengapa demikian ? Karena semakin kecil diameter lider, bobotnya menjadi semakin ringan dan dengan begitu hambatan angin menjadi kecil, sehingga lemparan pun bisa semakin jauh. Dengan tali lider yang kecil, action umpan tiruan di dalam air pun menjadi sangat bagus karena kenur lider menjadi lemas dan sangat fleksibel.

Antara lider dan kenur utama disambung dengan kili-kili alias swivel yang besarnya mengikutl besarnya diameter kenur yang dlpakai. Di atas swivel dipasangin timah pemberat tipe barrel alias bulat memanjang tipe C. Pemberat ini bergerak bebas, stopper-nya cuma kill,kili di bawahnya saja. Pemberat ini berfungsi untuk membawa umpan soft plastic supaya bisa dilempar ke kejauhan. Sebab semakin jauh lemparan, daerah yang di-cover akan semakin lebar dan kemungkinan disambar ikan pun semakin besar pula.

Selesailah sudah tahap rigging (perangkaian) komponen peralatan mancing soft plastic. Setelah bersiap-siap, jam 05.00 pagi kami pergi ke Pantai Baron dan mengambil lokasi di sisi sebelah barat. Di sisi sebelah barat ada sebuah sungai air tawar kecil yang keluar dari sebuah gua bawah tanah. Adanya sungai air tawar kecil ini ternyata membuat ikan-ikan kecil berkumpul di situ karena banyaknya makanan yang ikut mengalir keluar. Nah, ternyata kita tidak kasting di pantainya, tetapi di sungai kecil itu. Di dasar sungai itu terdapat banyak bebatuan sehingga sangat sukar bagi nelayan untuk menebarkan jalanya sehingga habitat ikan di situ selama ini bisa dianggap tidak tersentuh tangan-tangan manusia.

Casting dilakukan dengan melemparkan umpan tiruan itu ke hulu dan ditarik melawan arus. Baru saja kulakukan lemparan ke tiga sudah terasa sambaran, tapi sayang tidak hook-up dengan baik. Pada lemparan ke lima barulah hook-up dengan baik. Ternyata ikannya adalah anakan ikan kuwe seukuran telapak. Dengan piranti yang sangat kecil dan ringan itu diperlukan waktu yang lumayan lama untuk meminggirkannya. Kuwe-kuwe kecil ini ternyata setelah sampai di darat akan keluar suara khas ”kok-kok-kok” dari mulutnya. Sehingga teman-teman menamakannya mancing ala Tiongkok-an. Ternyata tidak hanya ikan kuwe kecil yang bisa makan soft plastic ini ada juga kakap merah (red snapper) kecil, kerong-kerong (fingermark) kecil walau kebanyakan yang tertangkap adalah kuwe-kuwe kecil itu.

Setelah dirasa cukup, kami kemudian membawa ikan-ikan perolehan kami kembali ke rumah Pak Bandot untuk dijadikan lauk sarapan pagi. Ternyata ikan kuwe sebesar telapak tangan sangat enak sekali, apalagi yang baru saja terpancing. Selesai sarapan, kami kemudian kembali mancing tetapi di lokasi yang lebih jauh dan ikannya lebih besar-besar.

Sore harinya kami merencanakan untuk memancing ke lokasi lebih ke selatan lagi dari Teluk Baron. Peralatan yang dibawa adalah joran karang biasa dan spinning ril-nya sekalian. Rangkaian soft plastic-nya sama dengan yang light tackle hanya ukurannya kali ini lebih besar semua. Di samping irisan lem akuariumnya lebih besar dan tebal serta diameter lidernya lebih besar, barrel striker-nyapun lebih berat.

Perjalanan kali ini lebih jauh, harus melewati sebuah bukit barulah sampai di lokasi yang ternyata adalah suatu karang setinggi sekitar tiga meter dari atas permukaan air. Dari pantai Baron kelihatannya dekat, tetapi ternyata setelah ditempuh dengan berjalan kaki menimbulkan keringat yang banyak juga. Ternyata di situ sudah banyak orang yang mancing. Rata-rata mereka mancing model jebluk (dasar) tetapi ada juga yang casting pakai pentil dan tali rafia. Sudah ada yang menaikkan ikan yaitu ikan kuwe ukuran 1-2 kiloan dan ada juga yang memperoleh ikan yang oleh penduduk setempat disebut kacangan (tongkol karasan).

Kami melakukan kasting cuma sebentar saja tetapi sudah cukup memuaskan mengajar kuwe-kuwe seukuran 1-2 kg. Apalagi sebentar lagi sudah mulai gelap dan kami lupa membawa senter.

Cerita ini cuma ilustrasi saja bahwa sudah lama pemancing di sini mengenal soft plastic. Ide ini ternyata pengembangan dari umpan pentil ataupun rafia. Sekarang, dengan adanya penyebaran informasi yang sangat cepat, lem akuarium sudah mulai ditinggalkan dan pemancing sudah mulai memakai soft plastic betulan yang dijual di Amerika atau negera-negara lainnya. Casting soft plastic pun sudah tidak hanya terpancang di Baron saja dan sudah menyebar kemana-mana, termasuk ke Manganti sekali pun.

Dengan adanya soft plastic ini, bagi anda yang mungkin merasa sayang untuk membeli minnow yang harganya mahal-mahal, bisa menggantikannya dengan lure model ini. Tingkat keefektifannya pun tidak kalah. Tinggal keyakinan kita masing-masing saja untuk mencobanya.

Selesai