Kamis, 02 November 2017

Nafsu cumi-cumi

Nafsu Cumi-Cumi

Setiap orang agaknya telah mengetahui bahwa cumi-cumi santapan yang sangat lezat setelah dibakar, digoreng atau diolah dengan berbagai macam bumbu, seperti yang biasa disajikan sebagai menu di restoran seafood. Khusus bagi Anda yang gemar mancing di laut pasti juga telah mengetahui bahwa cumi-cumi juga salah satu umpan terbaik yang efektif digunakan dalam keadaan utuh maupun dipakai kecil-kecil. Namun pada saat cumi-cumi yang dibeli terlampau banyak atau lokasi mancing yang diinginkan tidak kunjung ditemukan, kawatir busuk dan sia-sia, cumi-cumi yang sedianya bakal dipakai sebagai umpan akhirnya sebagian masuk pula ke penggorengan. 

Baik yang dimasak oleh koki ahli di restoran terkemuka atau oleh nelayan merangkap pawang, lantaran begitu enak masakan cumi-cumi niscaya selalu menjadi rebutan. Padahal, bisa dipastikan cumi-cumi di restoran, apalagi eks umpan, keadaan yang sebenarnya jauh dari segar karena telah sekian lama terendam es.

Kiranya wajar, setiap penampakan cumi-cumi di ujung cahaya lampu atau di dekat kapal saat malam hari sedang lego jangkar, atau di sekitar dermaga saat menjelang petang , sedang mengisi bahan bakar, akan membuat setiap pemancing tak peduli pemancing baronang, kakap, tenggiri, atau tuna maupun marlin senantiasa sangat bernafsu untuk mendapatkannya. 

Kelezatan cumi-cumi yang dimasak hanya beberapa saat setelah diangkat memang sulit dicari tandingannya. Berbeda dengan cumi-cumi stok di restoran, saat itu daging cumi-cumi memang belum berubah warna menjadi putih, melainkan masih dalam keadaan transparan kecoklatan, yang apabila dibakar atau digoreng akan meninggalkan rasa manis di lidah. Maka tak heran bila telah sekali mencoba, begitu ada kesempatan tentu ingin segera mencoba lagi.

Cumi-cumi yang sering terpancing umumnya jenis cumi karang (Loligo sp.) yang badannya gemuk, cumi todo (Todarodes sp.) yang badannya mirip anak panah, serta cumi bagan. Cumi karang paling menjadi idola, karena size-nya yang triple-L membuat kenikmatan sejak mancing hingga disajikan di piring makan, akan terasa maksimum. Demikian pula sebagai bahan untuk pamer saat berjumpa dengan rekan-rekan. *** 

Sabtu, 28 Oktober 2017

Spot pinggir rel kereta, tuntang, rwp

Sungai agak keruh, semalam hujan

Mahseer kali progo

Mancing cumi-cumi

Mancing cumi-cumi

Mancing cumi-cumi menyenangkan sebagai selingan ketika sedang mancing dasar, atau mancing dari dermaga saat liburan di pulau. Jika berkeinginan lain, mancing cumi-cumi juga bisa dilakukan dengan cara troling.

Pantai berkarang, bagan-bagan tancap, dan area dengan terumbu karang dangkal, baik di tubiran pulau maupun di tengah laut memang sangat berpotensi dihuni cumi-cumi. Bahkan bisa dibilang, asal ada ikan karang pasti akan ada pula cumi-cumi. Tapi dengan catatan, perairan tersebut bebas sampah dan polusi dari daratan.

Khusus di Kepulauan Seribu tempat-tempat ideal seperti di atas bisa ditemui di pantai dan dermaga Pulau Untung Jawa, Rambut, Ayer, Damar dan terus ke atas lagi. Namun di dermaga Tanjung Kait di pinggir Jakarta dan pantai karang sepanjang Merak, Anyer, hingga Carita juga masih menyisakan adanya cumi-cumi.

Sebaiknya urungkan niat untuk mancing jika kondisi air kotor, apalagi dipenuhi sampah-sampah kota yang mengambang. Begitu pula bila arus terlalu kuat, atau air laut pada malam hari keruh dan tampak menyala hijau akibat terlalu banyak pelepasan fosfor. Waktu terbaik untuk mancing ialah malam hari saat bulan purnama, sehingga kita tidak memerlukan lampu penerangan lagi. Namun bila ingin cumi-cumi dapat terkonsentrasi dan berkumpul di satu area, mancinglah saat gelap bulan dan gunakan sejumlah lampu petromaks atau lampu sorot di pinggiran perahu, atau di sekitar lampu penerangan di dermaga atau pantai.

Mancing cumi-cumi dapat pula dilakukan pada siang hari, namun terbatas di perairan karang yang agak dalam sehingga cahaya sulit menembus, atau di area yang lebih dangkal pada saat sinar matahari cukup teduh. Dua jam menjelang matahari terbenam dan setelah terbit fajar juga waktu yang ideal untuk mancing cumi-cumi.

Piranti dan Umpan

Piranti yang cocok untuk mancing cumi-cumi ialah joran dan ril spining dari jenis yang murahan. Ukurannya tak perlu besar-besar, bahkan kenikmatan maksimal bisa didapat jika joran, ril dan kenur yang dipakai terbatas kelas 2 atau maksimum 3 kg.

Ciri khas mancing cumi-cumi ialah umpannya yang menyerupai udang dan dilengkapi dengan pancing/kail tanpa kait (barbless) terpasang melingkar seperti jari-jari payung.

Umpan yang biasa disebut udang-udangan ini banyak dijual di toko pancing dengan berbagai merek. Ada yang impor buatan pabrik maupun hasil kerajinan tangan nelayan.

Sebaiknya sediakan umpan dengan beragam ukuran, bobot, dan warna. Biasanya ukuran umpan ditentukan dengan mengacu pada ukuran cumi-cumi yang tertangkap atau tampak berkeliaran di sekitar lokasi. Perlu diketahui, cumi-cumi tak pernah gentar pada umpan yang berukuran lebih besar dari badannya, namun umpan yang lebih kecil umumnya akan lebih cepat menghasilkan sambaran.

Perhatikan juga timah yang terdapat di bawah badan umpan. Timah pemberat berfungsi untuk mempermudah lontaran dan membuat umpan tetap berenang pada posisi tegak, serta untuk menentukan kedalaman berenang umpan.

Umpan seharusnya dapat menyelam di kedalaman yang sesuai dengan tempat keberadaan cumi-cumi. Warna yang banyak disukai biasanya merah muda kemerahan (pink to red) dan jingga kemerahan (orange to red). Tapi di perairan lain bisa jadi warna kesukaannya berbeda.

Lempar Gulung

Cara paling populer untuk mancing cumi-cumi di perairan dangkal ialah dengan teknik lempar gulung (cast and reel). Namun sebelum melontar umpan, untuk menghemat waktu dan tenaga sebaiknya pastikan dulu letak keberadaan cumi-cumi yang akan dipancing.

Pada siang hari yang cerah, cumi-cumi biasanya akan terlihat sebagai noktah-noktah hitam yang bergerak dengan perlahan. Namun sebaliknya di malam hari, cumi-cumi justeru akan terlihat sebagai noktah berwarna putih yang terus bergerak-gerak mendekat ke pusat cahaya lampu.

Cumi-cumi yang berani berkeliaran sampai ke dekat dermaga atau perahu biasanya berukuran kecil hingga sebaiknya tidak usah dipancing, kalau bisa langsung diserok saja dengan cepat.

Lain halnya dengan cumi-cumi besar yang bobot per ekornya berkisar 100-500 gr. Biasanya selalu lebih waspada di kejauhan dan di kedalaman.

Lontarkan umpan jauh ke tengah atau sebatas terangnya cahaya lampu. Selanjutnya putar penggulung secara konstan dan sangat perlahan. Rasakan baik-baik apakah seperti ada sesuatu yang tersangkut atau malah menarik kenur. Cumi-cumi biasanya mengikuti umpan terlebih dulu sebelum akhirnya menerkam.

Cumi-cumi besar yang terkait melawan dengan menarik umpan, sementara yang lebih kecil akan terseret sehingga terasa seperti sedang menyeret sampah, namun diselingi gerakan menyentak.

Menangani perlawanan cumi-cumi sangat mudah, namun harus ekstra hati-hati. Tingkatkan kewaspadaan saat menggulung kenur. Usahakan kenur tetap dalam keadaan tegang dengan cara menjaga kelengkungan joran.

Lepasnya cumi-cumi yang telah terkait umumnya disebabkan karena kenur sempat kendur, pancing mengait tipis di tentakel, atau cumi-cumi tersebut disambar ikan predator.

Perhatikan ukuran cumi-cumi yang terpancing, apakah bisa langsung diangkat atau harus menggunakan seser. Hati-hati terhadap semprotan cairan tinta yang bisa mengarah tepat ke muka dan mengotori pakaian.

Melepas cumi-cumi yang terkait bisa dilakukan dengan cara mudah, yakni dengan memutar secara vertikal udang-udangan hingga kepala umpan mengarah ke bawah. Cumi-cumi pasti akan lepas dengan sendirinya. Hati-hati pula terhadap gigi cumi-cumi yang mirip paruh burung kakak tua dan mampu melukai tangan.

Kotrek dan Troling

Selain dengan teknik lempar-gulung, mancing cumi-cumi bisa dilakukan dengan kotrekan dan juga troling.

Kotrek biasanya dilakukan di perairan yang agak dalam, yaitu dengan menempatkan beberapa . umpan pada rangkaian pancing jebluk. Turunkan umpan hingga ke dasar. Selanjutnya angkat dan turunkan joran sampai terasa ada sambaran.

Penempatan umpan dapat bervariasi dari dasar terus naik hingga ke tengah kedalaman laut. Karena penetrasi cahaya sangat rendah, pada malam hari sebaiknya gunakan umpan yang dicat dengan bahan mengandung posfor. Jangan lupa, sinari dulu umpan sebelum diturunkan.

Alternatif lain yang hasilnya juga efektif ialah menempatkan umpan yang dilengkapi lampu atau  dapat diisi stik fosfor yang dapat menyala jika dibengkokkan.

Troling dengan perahu dayung kapasitas dua orang seperti yang digunakan nelayan pancing -dengan maupun tanpa joran akan efektif bila digunakan pada saat cuaca sangat bagus, yaitu angin bertiup perlahan, kondisi perairan sangat jernih, dan bulan sedang bersinar penuh.

Tempatkan dua sampai empat umpan sekaligus di belakang perahu, dan ulur kenur sepanjang 10-20 meter. Kayuh perahu perlahan sepanjang garis pantai. Karena cumi-cumi selalu terkait dengan sempurna, teknik troling sangat efektif dan produktivitasnya juga sangat memuaskan. ***

Selesai

Kamis, 26 Oktober 2017

Casting soft plastic ala yogyakarta

Casting soft plastic ala yogyakarta

Tadinya saya berpikir, bahwa pemancing yang paling fanatik dengan cara memancing model kasting untuk wilayah Jawa Tengah hanyalah pemancing Gombong saja. Ternyata pendapat saya berubah setelah bertemu pemancing-pemancing Yogya yang sering mancing di Pantai Baron, Wonosari. Casting di sini lebih khusus diartikan sebagai memancing dengan umpan palsu. Berikut ini merupakan cerita ketika pertama kalinya saya mengenal soft plastic dan belum banyak pemancing yang memakainya. Kejadian di bawah ini kira-kira terjadi di tahun 1995-an.
Untuk mengobati rasa penasaran itu saya mengadakan janji dengan pemancing-pemancing Yogya yaitu Isiang pemilik Toko Besi Sandean di Piyungan dan Pak Ujang alias Lokjang (akhir-akhir ini Pak Ujang sudah bisa membikin soft konahead sendiri) untuk memancing bersama ke Baron. Ternyata saya masih belum punya joran khusus untuk kasting soft plastic, yaitu joran jenis very-very light tackle. Ternyata joran yang sudah siap pakai belum tersedia di toko, jadi kita harus merakitnya dulu. Waktu itu joran yang cocok cuma ada di Toko Rapi yang ada di Klaten. Joran yang dimaksud adalah joran tegeg ukuran minimal 2,7 m dengan action hard tapi kelas kenur kecil. Kemudian kita juga membutuhkan dudukan ril yg bisa ditempel di gagang joran yang bentuknya seperti lempengan. Dudukan itu diikat di batang bawah ril. Kemudian ditambahkan juga kolongan / memarit untuk joran teleskopik, yang dudukan diameternya disesuaikan dengan diameter tiap ruas joran tegeg tersebut. Untuk mengikatnya digunakan senar nilon khusus, setelah diikat kemudian di-finishing dengan pernis untuk memperkuat ikatannya. Jadilah sudah joran very-very light tackle.
Untuk penggulungnya, dapat digunakan Spinning ril paling kecil yang ada di pasaran. Misalnya Shimano versi 500, Daiwa versi Spinmatic atau versi 1 kelas di atasnya.

Sebenarnya ukuran penggulung tidak mutlak, yang mutlak adalah ukuran kenurnya yang cuma berukuran 2 lb dan tidak boleh lebih dari itu. Maka harus dipilih merek paling bagus untuk kenurnya, yaitu Goldenstring atau Siglon. Merek-merek ini adalah yang tersedia di Yogyakarta. Mungkin kalau ada Maxima atau Ande, mereka akan membelinya juga. Nah sekarang saya sudah punya perangkat kerasnya, masalah umpan alias lure-nya nanti akan diungkap di Baron aja. Selain peralatan very-very light ini saya juga disarankan untuk membawa joran untuk kasting di karang berikut rilnya, karena ternyata ada versi lain untuk kelas heavy-nya.

Berangkat dari Magelang Sabtu sore jam 14.00-an karena acara mancing adalah di hari Minggu. Saya sampai di Piyungan, di Toko Besi Sandean milik Isiang jam 17.00-an. Di sana sudah ada Pak Ujang. Setelah memarkir mobil sedan saya di garasi Isiang, kami bertiga cabut ke Baron menggunakan Chevrolet pick-up double gardan milik Isiang. Perjalanan dari Piyungan naik turun bukit dan berbelok-belok. Jarak yang cuma 40an km harus ditempuh selama 1,5 jam. Baron dapat dicapai melalui kota Wonosari dulu baru kemudian berbelok ke kanan dan mengikuti tanda-tanda yang menunjukkan arah ke tempat rekreasi Baron dan Kukup yang sudah ngetop dan merupakan pantai andalan Pemda Gunung Kidul.
Sampai di Baron kami menginap di tempat nelayan langganan kami yang bernama Bandot (memang mirip bandot orang ini karena dia memelihara jenggot ala kambing). Dia terkenal sangat jago dalam 'memandu acara trolling di perairan Wonosari. Sebenarnya waktu sore hari adalah saat yang tepat untuk kasting, tapi karena sudah kemalaman ya sudahlah kami langsung saja ngobrol di tempat Pak Bandot. Walau cuma beralaskan tikar dan tidur di dipan tanpa kasur, kami pun bisa menghabiskan malam tanpa hiburan itu dengan hanya ngobrol saja, karena Pak Bandot ternyata tidak mempunyai TV. Sayang suasana yang tenteram itu harus diganggu oleh nyamuk yang banyak sekali, hingga kita terpaksa harus dekat obat nyamuk bakar kalau tak ingin tubuh kita bentol-bentol. Waktu itu obat nyamuk oles belum ada.

Jam 04.00 pagi kami sudah bangun. Inilah saatnya untuk melihat rahasia rangkaian soft plastic mereka. Waktu itu belum dikenal soft plastic ala TV Media yang katanya manjur. Mereka menggunakan lem akuarium yang bermerk Dupont atau kalau tidak ada bisa menggunakan merek yang lain asalkan warnanya putih kebeningan. Cara pembuatannya adalah lem akuarium dilapiskan di kaca secara agak tebal. Setelah kering barulah diambil. Lem akuarium kering yang berbentuk bungkahan tapi sangat elastis itu kemudian diiris tipis-tipis memanjang. Untuk light tackle, paling tebalnya cuma 3 mm dan panjangnya 2 cm saja.
Setelah saya perhatikan betul-betul warna nya yang bening transparan dan bentuknya yang kecil, soft plastic jadi mirip sekali dengan impun (istilah Jogja untuk ikan-ikan atau udang kecil yang warnanya transparan dan merupakan makanan utama bagi anak ikan).
Untuk mata kailnya digunakan mata kail yang berleher lurus (regular shank), bukan model bagongan (short shank) karena model lurus memudahkan untuk memasukkan soft plastic nantinya. Untuk yang light tackle gunakan nomor 6-8 sedang yang lebih besar lagi menyesuaikan dengan ikan yang akan dipancing.

Tali pandu atau lider (leader) ternyata bagian yang sangat spesial. Lider sangatlah panjang dan disesuaikan dengan panjang joran. Karena joran tegeg yang dulunya saya beli adalah sepanjang 2,7 meter, maka panjang lider pun dibikin sepanjang 2,5 meter. Bahan lider adalah kenur monofilament biasa yang bediameter maksimum 0,20 mm, sebisa mungkin dipilih yang sekecil mungkin diameternya karena semakin kecil diameter maka semakin efektif pula soft plastic yang digunakan. Mengapa demikian ? Karena semakin kecil diameter lider, bobotnya menjadi semakin ringan dan dengan begitu hambatan angin menjadi kecil, sehingga lemparan pun bisa semakin jauh. Dengan tali lider yang kecil, action umpan tiruan di dalam air pun menjadi sangat bagus karena kenur lider menjadi lemas dan sangat fleksibel.

Antara lider dan kenur utama disambung dengan kili-kili alias swivel yang besarnya mengikutl besarnya diameter kenur yang dlpakai. Di atas swivel dipasangin timah pemberat tipe barrel alias bulat memanjang tipe C. Pemberat ini bergerak bebas, stopper-nya cuma kill,kili di bawahnya saja. Pemberat ini berfungsi untuk membawa umpan soft plastic supaya bisa dilempar ke kejauhan. Sebab semakin jauh lemparan, daerah yang di-cover akan semakin lebar dan kemungkinan disambar ikan pun semakin besar pula.

Selesailah sudah tahap rigging (perangkaian) komponen peralatan mancing soft plastic. Setelah bersiap-siap, jam 05.00 pagi kami pergi ke Pantai Baron dan mengambil lokasi di sisi sebelah barat. Di sisi sebelah barat ada sebuah sungai air tawar kecil yang keluar dari sebuah gua bawah tanah. Adanya sungai air tawar kecil ini ternyata membuat ikan-ikan kecil berkumpul di situ karena banyaknya makanan yang ikut mengalir keluar. Nah, ternyata kita tidak kasting di pantainya, tetapi di sungai kecil itu. Di dasar sungai itu terdapat banyak bebatuan sehingga sangat sukar bagi nelayan untuk menebarkan jalanya sehingga habitat ikan di situ selama ini bisa dianggap tidak tersentuh tangan-tangan manusia.

Casting dilakukan dengan melemparkan umpan tiruan itu ke hulu dan ditarik melawan arus. Baru saja kulakukan lemparan ke tiga sudah terasa sambaran, tapi sayang tidak hook-up dengan baik. Pada lemparan ke lima barulah hook-up dengan baik. Ternyata ikannya adalah anakan ikan kuwe seukuran telapak. Dengan piranti yang sangat kecil dan ringan itu diperlukan waktu yang lumayan lama untuk meminggirkannya. Kuwe-kuwe kecil ini ternyata setelah sampai di darat akan keluar suara khas ”kok-kok-kok” dari mulutnya. Sehingga teman-teman menamakannya mancing ala Tiongkok-an. Ternyata tidak hanya ikan kuwe kecil yang bisa makan soft plastic ini ada juga kakap merah (red snapper) kecil, kerong-kerong (fingermark) kecil walau kebanyakan yang tertangkap adalah kuwe-kuwe kecil itu.

Setelah dirasa cukup, kami kemudian membawa ikan-ikan perolehan kami kembali ke rumah Pak Bandot untuk dijadikan lauk sarapan pagi. Ternyata ikan kuwe sebesar telapak tangan sangat enak sekali, apalagi yang baru saja terpancing. Selesai sarapan, kami kemudian kembali mancing tetapi di lokasi yang lebih jauh dan ikannya lebih besar-besar.

Sore harinya kami merencanakan untuk memancing ke lokasi lebih ke selatan lagi dari Teluk Baron. Peralatan yang dibawa adalah joran karang biasa dan spinning ril-nya sekalian. Rangkaian soft plastic-nya sama dengan yang light tackle hanya ukurannya kali ini lebih besar semua. Di samping irisan lem akuariumnya lebih besar dan tebal serta diameter lidernya lebih besar, barrel striker-nyapun lebih berat.

Perjalanan kali ini lebih jauh, harus melewati sebuah bukit barulah sampai di lokasi yang ternyata adalah suatu karang setinggi sekitar tiga meter dari atas permukaan air. Dari pantai Baron kelihatannya dekat, tetapi ternyata setelah ditempuh dengan berjalan kaki menimbulkan keringat yang banyak juga. Ternyata di situ sudah banyak orang yang mancing. Rata-rata mereka mancing model jebluk (dasar) tetapi ada juga yang casting pakai pentil dan tali rafia. Sudah ada yang menaikkan ikan yaitu ikan kuwe ukuran 1-2 kiloan dan ada juga yang memperoleh ikan yang oleh penduduk setempat disebut kacangan (tongkol karasan).

Kami melakukan kasting cuma sebentar saja tetapi sudah cukup memuaskan mengajar kuwe-kuwe seukuran 1-2 kg. Apalagi sebentar lagi sudah mulai gelap dan kami lupa membawa senter.

Cerita ini cuma ilustrasi saja bahwa sudah lama pemancing di sini mengenal soft plastic. Ide ini ternyata pengembangan dari umpan pentil ataupun rafia. Sekarang, dengan adanya penyebaran informasi yang sangat cepat, lem akuarium sudah mulai ditinggalkan dan pemancing sudah mulai memakai soft plastic betulan yang dijual di Amerika atau negera-negara lainnya. Casting soft plastic pun sudah tidak hanya terpancang di Baron saja dan sudah menyebar kemana-mana, termasuk ke Manganti sekali pun.

Dengan adanya soft plastic ini, bagi anda yang mungkin merasa sayang untuk membeli minnow yang harganya mahal-mahal, bisa menggantikannya dengan lure model ini. Tingkat keefektifannya pun tidak kalah. Tinggal keyakinan kita masing-masing saja untuk mencobanya.

Selesai

Kamis, 25 Mei 2017

Selasa, 21 Februari 2017

Sabtu, 18 Februari 2017

Pernahkan mendengar kata Karang Manganti? Spot 20km dari gombong dulu adalah surga pemancing. Karang yang cuma berjarak 2 meter dari permukaan air sangat cocok untuk landbased casting. Udah ga terhitung iwak kapokan (ikan kuwe) yang ku landed kan mulai dari ukuran di foto sampai yg 20kg up. Cukup pakai umpan kayu. Dari gombong bisa lewat karangbolong tembus srati dan karangduwur. Atau juga bisa lewat pantai ayah/logending. Kalau uncal fajaran enak dari karangbolong. Setelah cuaca panas ikannya bisa dibawa ke logending suruh dibakarkan Mbak Ikem istrinya Pak Nanang. Kalau sore enak berangkat dari logending. Bisa beli perbekalan dulu di tempat pak nanang. Karang yang difoto itu namanya Tieng. Spot terendah dari permukaan air. Cuma bisa dipancing kalo airnya ga ombak. Karena jarang didatangi orang dulu one cast one fish. Entah sekarang. Ga pernah dengar lagi report manganti ha4.


Galangan kapal yg canggih. Sayang tidak dimanfaatkan dan rusak nganggur


Spot mangur yg jos


Buzz bait ternyata ampuh juga buat gabus. Baru nyobain soalnya he3


Bagi pembudidaya ikan koi ada satu teknik supaya ikannya bisa jadi tumbuh besar2. Kolam harus dibikin sangat dalam kalau mau ikannya jadi panjang dan besar. Rumusnya 5x panjang ikan kedalaman kolamnya. Jadi kalo mau ikan koi 70cm ya kolamnya harus sedalam 3,5-4meter. Apakah hal ini juga terjadi di dunia liar? Mungkin pengalaman di kali gending bisa jadi contohnya. Kali gending tahun 70an debit airnya sangat besar sebelum airnya sebagian diambil sebagai sumber air minum Akmil. Kedalamannya juga 2meteran, kedung2 malah ada yang 4meter. Hampala 60-70an dulu katanya buanyak dan keliatan di pinggiran karena airnya sangat jernih. Dengan berlalunya waktu, debit air sudah jauh menurun dan tentu saja banyak sampah membuat kali gending menjadi sangat dangkal. Kedung terdalam paling 1,5meter. Rata2 cuma 40-30cm kedalaman airnya. Hampala masih banyak. Tapi kuecil2. Rata2 20cm. Dan ternyata ukuran 20cm pun udah bisa bertelur dan memijah. Miris ya ha3. Moral dari cerita ini adalah syarat habitat i




Teknik penanganan ikan setelah kena pancing



Casting hampala sering kisruh karena ikannya liar banget. Tetapi menjadi dilema karena saking jengkelnya sehingga kadang suka dibanting supaya tidak bertingkah liar lagi. Padahal ikan yang dibanting itu pasti ga enak karena dagingnya mengalami kelebaman dan menjadi tidak segar lagi.

Ini saya share salah satu teknik ikan supaya tetap hidup dan segar sampai selesainya sesi mancing.

Teknik ini sebenarnya nyontek para pemancing ceplek (barramundi pantura). Dengan model kawat melingkar yang ditusukkan di dagu itu ikan tetap hidup dan beringas sampe jangka waktu lama.

Lendir ikan juga tidak bakalan lenyap kalo misal dimasukin ke bronjong/korang/kepis (keranjang ikan dr jaring itu).

Teknik ini bisa dilakukan untuk yang mau bawa pulang buat digoreng. Goreng ikan dr ikan yang hidup nikmatnya tiada tara percaya lah.

Teknik ini juga bisa untuk ikan yang mau dipiara di aquarium. Lubang di dagu cepat sembuh dan 3 hari udah menutup. Lendir ikan tidak hilang. Ikan jadi sehat banget.

Teknik ini juga bisa untuk yang mau me rilis lagi. Ikan yang tertangkap trus langsung dilepas lagi kadang bikin takut teman2nya. Jadi ikan keep dulu sampai selesai sesi mancing baru lepas semua.

Everybody happy dengan teknik ini.

Jumat, 10 Februari 2017

Memancing ikan uceng




Memancing ikan Uceng

Rata-rata anak-anak di kampungku sekolah dua kali sehari yaitu sekolah "SD"
dan sekolah "Arab" tidak terkecuali aku. Sekolah SD pulang jam 12 siang dan
sekolah "Arab" masuk jam setengah dua dan pulangnya jam 5 sore. Hari Sabtu
sore sesudah pulang dari sekolah "Arab" sebutan untuk sekolah Madrasah
dikampungku, aku dan gengku Adib, Najib dan Usman sudah ngumpul di rumah
Sani. Sani adalah suhu senior dalam hal memancing. Selain peralatan
memancingnya yang lengkap (peralatan tradisional), dia juga banyak punya
cadangan "walesan" atau joran. Persiapan sore itu sudah sangat mantap.
Magrib kami sudah harus pulang karena sesudah maghrib harus "ngaji" ditempat
mbah Juweni. Jarak rumah kami berdekatan, hanya Usman yang agak jauh yaitu kira-kira 500 meter dari rumah Sani. Minggu pagi tinggal mencari umpan.
Minggu ini rencana kami adalah memancing "uceng".

Menungggu Minggu pagi adalah siksaan yang sangat berat karena sudah
terbayang-bayang terus kalau paginya akan memancing. Entah jam berapa aku
tidur pada malam itu, tapi dengan agak terkejut aku terbangun dan ternyata
sudah subuh. Dengan semangat aku langsung bangun dan berlari kerumah Sani.
Sesampai dirumah Sani bukannya diterima dengan senyum tapi malah dimarahin.
Disuruhnya aku sholat dulu, kalau nggak nanti akan dibilangin sama "mbah
Nyai", mbah Nyai adalah sebutan ibuku, aku sendiri nggak tahu kenapa semua
orang memanggilnya demikian. Aku paling takut dimarahin emakku. Aku tidak
membantah dan menurutinya, lantas aku meminjam kain sarung yang kedodoran.
Jam 6 pagi semuanya sudah ngumpul, dan Usman sudah membawa cacing yang
terlihat dari tangannya yang membawa bungkusan daun keladi. Berangkatlah
kami ke kali Cengek

Ikan Uceng sesuai dengan namanya adalah ikan yang ukurannya sebesar
"uceng-uceng" (sebutan untuk sumbu kompor dikampungku). Ya, besarnya sesumbu kompor dengan diameter 1 s/d 1.5cm dengan panjang sekitar 6-10 cm. Ikannnya adalah belang-belang tanpa sisik dan punya kumis. Ikan ini hidup di air
tawar yang mengalir.

Alat alat dibawah ini sudah disiapkan semua oleh Sani dan Usman yaitu:

a. Joran khas untuk Uceng yaitu "sodo kolang kaling" yaitu lidi pohon enau
yang dibersihkan dari daunnya. Kemudian kita ukur dengan jengkal kita dengan
hitungan: "Blung", "Trucuk", "Caplok", "Jendel" secara berurutan, yang
terakhir harus "jendel". Hitungan ini kami dapatkan secara turun temurun.

Kalau panjang jorang terakhir dalam hitungan "Blung" artinya umpan kita
jarang dimakan ikan.

Kalau panjang jorang terakhir dalam hitungan "Trucuk" artinya umpan kita
sering dicium dan disenggol ikan, tapi tidak sampai dimakan.

Kalau panjang jorang terakhirdalam hitungan "Caplok" artinya umpan kita
sering dimakan ikan tapi jarang tersangkut dimata pancing.

Kalau panjang jorang terakhir dalam hitungan "Jendel" artinya umpan kita
sering dimakan ikan dan ikan tersangkut dimata pancing.

Dari beberapa walesan aku ambil yang cocok dengan ukuran jengkalku yaitu
harus "jendel" pada hitungan terachir.

b. Kenur khas untuk Uceng yaitu rambut gadis kampung. Banyak gadis-gadis
desa yang punya rambut lebih dari satu meter. Beruntung aku punya tetangga
anaknya Pak Sulaiman yaitu : Anisah, Asrifah dan Eni yang ketiga tiganya
punya rambut sampai di betis. Satu lagi Mbak Atikah tapi sudah punya suami
sehingga segan kalau mau meminta rambutnya.

c. Mata kail khas untuk Uceng yaitu kawat rem sepeda/sepeda motor yang sudah
diurai dan diasah. Panjangnya kira-kira 1 cm dibengkokkan dengan paku kecil

d. Pemberat biasa kami sebut timbel yaitu gotri atau peluru senapan yang
kita pipihkan. Satu gotri bisa dibagi menjadi 4 pemberat

e. Umpan untuk uceng adalah cacing pohon pisang. Cacing ini hidup dipohon
pisang yang daunnya sudah agak busuk. Cacingnya halus dan kecil berwarna
kemerahan, kemudian kita bungkus pakai daun keladi supaya tetap hidup sehat.

Cara memancing uceng ini cukup unik, yaitu kita berderet ditengah sungai
yang dalamnya kira-kira 50 – 60 cm. Uceng ini jumlahnya sangat banyak.
Sekitar jam 6.15 kami berlima berderet ditengah sungai. Air sungai masih
terasa sangat dingin dan mengeluarkan asap, kakiku terasa masuk kedalam air
es. Belum cukup satu menit Najib dan Sani sudah menghentak dan memutar joran
"iwirrrr-iwirrr-iwirrrrr", berarti 2 ikan uceng sudah didapatkan. Yang paling rame adalah apabila kami berlima mendapatkan uceng yang bersamaan.
Kami merasakan kamilah yang menguasai kali Cengek dengan teriakan-teriakan
kami. Feeling kita sangat dibutuhkan untuk mendapatkan uceng, karena ikan
uceng makannya sangat halus. Apabila sudah terasa getaran diujung joran maka
akan kita sentak. Dan apabila sudah terasa uceng terangkat maka akan kita
putar seperti baling-baling helicopter sambil mulut kita berteriak "
Iwirrr-iwirrr-iwirrr-iwirrr". Awalnya aku nggak tahu tujuannya untuk apa,
akhirnya tahu juga. Tujuannya adalah supaya uceng kita tidak terlepas dari
mata kail dan mungkin uceng itu pusing sehingga diam saja ketika dilepas
dari mata kail yang tidak ada "grethelan"nya. Untuk tempat ikannya biasanya kita pakai tas kresek yang kita ikatkan ke pinggang. Pagi s/d dhuhur bisa
kita dapatkan 90 - 120 ekor. Aku yakin di dunia ini mungkin hanya di
kampungkulah ada cara memancing yang unik ini. Jam 11.30 ketika keluar dari
sungai kaki kami sudah membiru dan keriput saking dinginnya. Dari lima orang
pemancing terkumpul kurang lebih 500 ekor uceng. Kami berlima pulang menuju
rumahku, emakku meskipun tidak suka melihat aku memancing, tetapi sangat
perhatian pada kami. Sehingga ketika kami pulang sudah disediakan nasi
hangat. Najib mempersiapkan api ditungku dan Adib mencuci ikan. Sementara Usman mempersiapkan bumbu garam dan bawang putih. Kami suruh yu "Ni" pembantuku untuk menggorengkan uceng yang baru saja kami dapatkan.

Ikan ini rasanya gurih minta ampun membersihkannyapun sangat mudah, hanya dicuci tanpa perlu dibuang kotorannya, mungkin karena terlalu sedikit
kotorannya sehingga tidak terasa pahit ketika digoreng. Bumbunya cukup garam
ditambah bawang putih kalau suka. Bisa juga ditambahkan tepung untuk jadi
rempeyek uceng. Dimakan dengan nasi hangat wah rasanya nendang buanget. Kami berlima makan bertambah tambah.

Di kali elo


Casting hampala wadaslintang. Kala itu bisa strike buanyak sampai bosan. Yang di ember putih itu masih ada belasan ekor.