Minggu, 29 Maret 2009

casting dengan maglure di Tuban

Dapat mujair dan bawal oleh Mas Doni

soni magelang

kerapu dengan minnow shallow

Kalau pada saatnya pas bisa saja casting kerapu dengan minnow shallow. Biasanya di atas karang2 dangkal yang pas pasang tinggi tertutup air.


soni magelang

Jumat, 27 Maret 2009

giant salmon carp from mekhong river

Ikan ini sangat jarang diketemukan karena overfishing di sungai mekhong. Bisa berukuran sangat besar dan bentuknya seperti ikan salem maka disebut sebagai giant salmon carp karena masih termasuk cyprinidae juga.

IKAN-IKANKU SAYANG, IKAN-IKANKU MALANG (bagian 4)

IKAN-IKANKU SAYANG, IKAN-IKANKU MALANG (bagian 4)

3. Memancing ikan pari

Jangan dibayangkan ikan pari disini adalah ikan yang bulat berekor panjang
dan beracun. Ikan pari atau dikampungku disebut dengan wader pari adalah
hampir sama dengan wader bisa tetapi lebih panjang dan lebih tipis. Ikannnya
adalah bersisik halus dan sangat mengkilap dengan warna kebiru biruan
dipunggungnya. Dan ikan ini tidak "gabesan" atau tidak mudah mati. Makanya kalau fisik kita kuat, kita dibilang fisik ikan pari.

Alat yang disiapkan untuk mencing ikan pari sama dengan memancing wader
biasa, hanya lokasi dan umpan yang sedikit berbeda. Ikan ini biasanya berada
pada aliran sungai yang agak deras, makanya umpan "lothek"nya juga harus
agak lebih keras supaya tidak hancur kena derasnya air. Lokasi yang paling
strategis untuk memancing ikan ini namanya adalah "kedung nongko" jaraknya sekitar 1 km dari rumahku. Kedung nongko adalah lokasi yang cukup favorit untuk para pemancing. Ikan parinya sangat banyak. Ada orang kampungku yang sangat ahli memancing ikan ini, tapi namanya aku lupa. Dia adalah guru SD, tiap memancing selalu memakai topi tani yang lebar, kami sangat takut karena kami tidak dibolehkan memancing dekat lokasi dia memancing. Setelah kami
selidiki ternyata dia takut kalau rahasia umpannya terbongkar. Ternyata tiap
membuat 'lothek" atau pelet dia selalu mencampurnya dengan air besar ("maaf
ya"), informasi ini saya dapatkan dari tetangganya.

soni magelang

Kamis, 26 Maret 2009

(OOT)Gaji DPR (woooww) keren - JANGAN SALAH PILIH !!!




---------- Forwarded message ----------
From: Haryono



---------- Forwarded message ----------



Dari Millist Tetangga,....pantesan pada berebut kursi caleg.....enak sih....yach


 
Membaca email dibawah ini membuat saya jadi "terenyuh" untuk bayar pajak.
 
Kita (pekerja dan kaum buruh) bayar pajak dengan susah payah (dari hasil keringat) untuk membayar gaji bulanan para anggota dewan yang kerjanya cuma ....... 
 
Jangan jadi Golput ataupun suara nya dibeli.

---




Pemilu 2009 adalah pemilu terbanyak yang melibatkan caleg atau calon legislatif, sebenarnya berapa sih gaji dari anggota DPR?

 
Penerimaan anggota DPR terbagi menjadi tiga kategori, yaitu

$B!&(B                                             rutin perbulan, rutin non perbulan dan sesekali. Rutin perbulan meliputi :

Gaji pokok : Rp 15.510.000
Tunjangan listrik : Rp 5.
496.000
Tunjangan Aspirasi : Rp 7.200.000
Tunjangan kehormatan : Rp 3.150.000
Tunjangan Komunikasi : Rp 12.000.000
Tunjangan Pengawasan : Rp 2.100.000
Total : Rp 46.100.000/bulan
Total Pertahun : Rp 554.000.000

Masing-masing anggota DPR mendapatkan gaji yang sama. Sedangkan penerimaan nonbulanan atau nonrutin. Dimulai dari penerimaan gaji ke-13 setiap bulan Juni.

Gaji ke-13 :Rp 16.400.000
Dana penyerapan ( reses) :Rp 31.500.000
Dalam satu tahun sidang ada empat kali reses jika di total selama pertahun totalnya sekitar Rp 118.000.000. Sementara penghasilan yang bersifat sewaktu-waktu yaitu:

Dana intensif pembahasan rencangan undang-undang dan honor melalui uji kelayakan dan kepatutan sebesar Rp 5.000.000/kegiatan
Dana kebijakan intensif legislative sebesar Rp 1.000.000/RUU

Jika dihitung jumlah keseluruhan yang diterima anggota DPR dalam setahun mencapai hampir 1 milyar rupiah. Data tahun 2006 jumlah pertahun dana yang diterima anggota DPR mencapai Rp 761.000.000, dan tahun 2007 mencapai Rp 787.100.000. Woww.. pantas jika mereka mengejar kursi DPR, belum lagi dana pensiunan yang mereka dapatkan ketika tidak lagi menjabat.


Sumber:
www.kabarinews.com
http://warnadunia.com/rahasia-kenapa...i-anggota-dpr/




enak ya, kerjanya sambil tiduran di rapat, tapi digaji ...

Padahal di Perusahaan tempat kita BEKERJA, kerja sampai pagi & tidur di kantor pula, diomelin anak - istri, gaji lembur belum tentu di bayar, he.he.he,hehe.he.he

 

 

SELAMAT MEMILIH WAKIL RAKYAT – 9 APRIL 2009 (PLEASE DO NOT MISS IT) – JANGAN SALAH PILIH

 

 




 



Yummy snack



---------- Forwarded message ----------
From: Haryono



---------- Forwarded message ----------




 



Good Suggestion for Cost Cutting




---------- Forwarded message ----------
From: Haryono



---------- Forwarded message ----------












 






Minggu, 22 Maret 2009

peringatan yg bagus ?

peringatan yg bagus ?

Membaca berita seperti ini seharusnya dipublikasikan kemana2 sehingga orang2 menjadi kapok untuk melakukan kegiatan stroom untuk menangkap ikan.

soni magelang

IKAN-IKANKU SAYANG, IKAN-IKANKU MALANG (bagian 3)

2. Memancing ikan "cakul" atau wader biasa

Seperti biasanya hari Sabtu kami selalu menjadwalkan untuk memancing. Jadwal mincing kami berlima adalah sangat fleksible tergantung cuaca dan saran dari Sani. Memancing uceng bisa dilakukan kapan saja selama air tidak keruh.
Minggu ini kami memutuskan untuk memancing "wader biasa". Ikan biasa atau dikampungku disebut dengan wader biasa ada juga yang menamakan ikan "cakul" sesuai dengan namanya adalah ikan yang biasa didapatkan setiap saat, ukuran
ikan ini dengan panjang sekitar 10-15 cm. Ikan ini berwarna putih dan
bersisik halus, sejenis ikan pantau tetapi lebih besar dan lebar. Ikan ini
hidup di air tawar yang yang relative agak dalam biasanya di "kedung"
(bagian sungai yang punya kedalaman lebih) sehingga aliran sungainya nampak kurang deras. Ikan ini suka meloncat di "grojogan" (semacam air terjun kecil) yang terjadi karena adanya perbedaan yang signifikan dari ketinggian
aliran sungai. Ada 3 grojogan yang kita jumpai dikampungku. Satu di "kali Cengek" tepatnya dekat surau Pak Munib dan 2 lagi di "kali gedhe" yaitu di pleret. Pleret adalah pintu air yang membagi sungai dari mata air senjoyo menjadi 2 yaitu kali Cengek dan kali gedhe. Dengan adanya pintu air ini maka kali Cengek tidak pernah terkena banjir, jika terjadi banjir maka semua air banjir akan mengalir ke kali Gedhe. Temanku Adib yang suka membuat jebakan untuk mendapatkan ikan ini yaitu dengan menaruh keranjang yang didalamnya
dimasukkan rumput-rumputan. Keranjang ini ditaruh 10 cm diatas permukaan air disebelah air terjun. Ikan yang meloncat akan terjebak masuk kedalam keranjang dan nggak bisa keluar lagi karena terhalang oleh rumput yang berfungsi seperti jebakan. Dan setiap lima menit akan diangkat. Ternyata sudah ada 3-4 ikan yang terperangkap (hebat juga idenya). Kemudian tidak hanya satu keranjang ditaruh tetapi 2-3 keranjang per "grojogan". Hasilnya
lumayan tetapi cukup capek, karena harus mengelilingi 3 grojogan yang
jaraknya hampir 500m.Tetapi kami punya semboyan "tidak ada kepuasan yang hakiki untuk mendapatkan ikan kecuali dari memancing". Mulai dari persiapan walesan, umpan, getaran joran, dan sentakan begitu membekas dalam pikiran.
Sabtu sore kami telah mempersipakan alat alat yang perlu disiapkan untuk
memancing wader biasa yaitu:


- Joran khas untuk memancing ikan ini adalah "walesan" yaitu joran yang dibuat dari batang bambu yang sudah dibelah. Panjang bilah bambu yang akan dijadkan joran sekitar 180 – 230 cm. Pegangan joran dibuat
sebesar jempol tangan orang dewasa dan makin keatas makin kecil, untuk
"entul" (bagian teratas dari joran) dibuat sehalus mungkin dengan bagian bambu diluar yang disisakan, karena bagian ini tidak mudah patah dan sangat lentur dan juga tetap menggunakan ukuran jengkal tangan dengan hitungan:
"Blung", "Trucuk", "Caplok", "Jendel" secara berurutan, yang terakhir harus
"jendel". Yang paling ahli membuat Walesan ini adalah Sani

- Kenur khas untuk wader biasa yaitu rambut gadis kampung yang disambung dua.

- Mata kail khas untuk wader biasa yaitu kawat rem sepeda/sepeda motor yang sudah diurai dan diasah. Panjangnya kira-kira 12mm dibengkokkan dengan paku kecil (lebih besar sedikit dari mata kail uceng)

- Pemberat biasa kami sebut timbel yaitu gotri atau peluru senapan yang kita pipihkan. Satu gotri bisa dibagi menjadi 3 pemberat

- Umpan untuk wader biasa adalah "lothek". Ada 2 arti lothek di kampungku. Satu, lothek yang artinya sayur-sayuran yang dicampur sambel kacang atau semacam pecal. Dua, lothek untuk umpan ikan yaitu
semacam pelet yang dibuat dari singkong yang dibakar kemudian diambil dagingnya. Kenapa singkongnya harus dibakar? Karena kalau dibakar hasilnya lebih pulen dan lebih tahan lama dibandingkan bila direbus atau dikukus. Bahan lainnya adalah kunyit dan tempe bosok (tempe yang sengaja
dibusukkan). Di Salatiga ada lauk khas yang dibuat dari tempe yang sengaja dibusukkan. Namanya "sambel tumpang", lauk ini hanya ada di Salatiga dan sekitarnya. Bahan dasarnya adalah tempe bosok dicampur dengan daging tetelan,
cabe merah, santan, bawang merah, bawang putih dan pete. Campuran lainnya adalah "krupuk krecek" yaitu krupuk yang dibuat dari kulit sapi, dan jangan lupa tambahkan "krupuk karak" yaitu krupuk yang dibuat dari nasi. "Nasi liwet sambel tumpang" bisa kita jumpai disepanjang jalan sudirman dan lapangan Pancasila, rasanya ruarrrr biasa 'mak nyosss" dengan bau khasnya.

"Lothek" merupakan umpan khusus untuk wader biasa. Bahan bahannya tinggal kita giling halus, kemudian kita bungkus daun pisang. Supaya tidak cepat asam biasanya kita tutup dengan kain basah ketika memancing.

Cara memancing wader biasa yaitu kita pilih "kedung" yang aliran sungainya agak memutar. Kita cari tampat yang strategis karana kita akan duduk berjam-jam disini. Feeling kita sangat diperlukan karena wader biasa ini makannya sangat halus. Apabila sudah terasa getaran diujung joran maka akan kita sentak. Dan apabila sudah terasa wader biasa terangkat tidak perlu diputar seperti baling-baling helikopter karena kalau ikan ini terlepas sudah berada didaratan. Tetapi biasanya kami tiap memancing wader biasa ini
menggunakan sarung sebagai pengganti celana tujuannya ikan yang sudah nyangkut dikail langsung kita arahkan kekain sarung yang kita pakai sehingga bila ikan terlepas, maka akan terlepas disarung kita. Sarung yang kita pakai ketika duduk akan berfungsi seperti cekungan sehingga bisa berfungsi sebagai
tangguk. Untuk tempat ikannya biasanya bawa ember kecil yang dimasukkan air dan rerumputan. Kami tidak mengenal yang namanya pelampung, jadi kami selalu
memancing dengan cara glosor tetapi umpan tidak didasar air yaitu kita
kira-kira sendiri kurang lebih 10 – 20 cm dari dasar sungai dan kita
gerakkan mengikuti arus. Demikian terus berulang-ulang, sampai dimakan ikan.

Lokasi yang paling banyak dihuni oleh ikan biasa ini namanya "tenggongan" yaitu sebuah tikungan sungai yang airnya cukup dalam dan dikelilingi oleh hutan bambu (papringan). Daerah ini sangat terkenal karena selain banyak
dihuni berbagai jenis ikan, lokasi ini juga dihuni mahluk halus, kami
sekampung mempercayainya. Di "papringan" yang lokasinya mengelilingi kedhung ini banyak sekali bergelantungan berbagai ular. Kami percaya selama kami tidak mengganggu maka ular-ular ini tidak akan menggigit. Dan disinilah lubuk berbagai macam ikan. Kami berlima duduk agak berdekatan sambil mulut
kami komat-kamit berdo'a supaya tidak diganggu. Sebelum memasukkan kail ke sungai kami selalu minta ijin kepada "penghuni" sungai ini. "Mbah sing mbaurekso "tenggongan", kulo nyuwun ulame nggih mbah?" (Mbah yang menguasai "tenggongan", kami minta ikannya ya Mbah?" Semuanya ini diajarkan oleh Pakde Serur (tokoh supranatural di kampung kami) dan kebetulan dialah penggarap
sawah tepat disamping "tenggongan". Entah tahayul atau tidak, yang jelas
tiap orang yang memancing di 'tenggongan' selalu minta ijin terlebih dahulu.
Karena memang sering kejadian, anak-anak kesurupan setelah memancing disini.
Aku masih ingat nama anak yang "kesambet" atau kesurupan yaitu: Saipur dan Rosad, dan Pakde Serurlah yang menyembuhkan. Saipur & Rosad "kesambet" karena buang air kecil sembarangan.

Kami duduk beralaskan rumput yang tumbuh ditepi sungai. Kami bergantian mendapatkan ikan. Tiba tiba joranku tertarik agak keras, aku kaget dan kusentak, akhirnya putus dan jantungku berdegup kencang. Sani bilang umpanku dimakan ikan mangur, harusnya ngak boleh kaget dan tarik perlahan sampai ikan itu capek, kalau ikan sudah capek ditarik sampai ketepi sungai baru diambil pakai tangan. Aku harus mengganti rambut dan mata kail dengan tangan
yang masih gemetar.

Memancing ikan ini sangat mengasyikkan. Waktu tidak terasa dan biasanya kami membawa bekal untuk makan siang yaitu nasi kucing dengan lauk bakwan dan "tempe gembos" dari warung lek Jamil. Nasi kucing adalah nasi yang
"ditrempelang" atau dibungkus dengan daun pisang dengan lauk "kering tempe" dan kadang tahu/telur dadar yang dipotong-potong. Tempe gembos adalah tempe
yang dibuat dari ampas tahu yang digoreng dengan tepung. Harga tempe gembos ini separuh dari harga tempe dan tahu. Harga nasi kucing adalah 250 rupiah dan bakwan serta tempe gembos 25 rupiah. Seperti biasanya Sani yang mendapatkan ikan yang terbanyak. Aku hanya mendapatkan separuhnya. Selesai
mancing kami tidak langsung pulang, tetapi langsung "mbetheti" atau
membersihkan ikan yang kami dapatkan. Dari lima orang pemancing semua ikan dikumpulkan dan dibetheti bersama-sama. Waktu membersihkan ini cukup lama
dan karena dikerjakan bersama-sama maka tidak terasa. Selesai dibersihkan
Sani membagi ikan tersebut. Kami tidak pernah ada yang protes masalah
pembagian ini.

soni magelang

Jumat, 20 Maret 2009

IKAN-IKANKU SAYANG, IKAN-IKANKU MALANG (2) -> uceng

IKAN-IKANKU SAYANG, IKAN-IKANKU MALANG

Cerita ini akan aku bagi beberapa bagian yaitu:

1. Memancing di Sungai pada tahun 1970 – 1977 (lokasi di Salatiga - Jawa)
2. Memancing di Rawa pada tahun 1981 – sekarang (lokasi di Salatiga -
Jawa)
3. Memancing di Sungai pada tahun 1990 – sekarang (lokasi di Sumatra)
4. Memancing di Laut pada tahun 2000 – sekarang (lokasi di Sumatra)

A. Memancing di Sungai pada tahun 1970 – 1977 (lokasi di Salatiga - Jawa)

Ada sebelas jenis ikan dikampungku yang dipancing/didapatkan dengan cara
yang berbeda termasuk udang dan belut yaitu:

1. Ikan uceng

2. Ikan cakul /wader biasa

3. Ikan /wader pari

4. Ikan Mangur

5. Ikan/Wader dhedhuk

6. Ikan Kotes

7. Ikan Lele

8. Tempel watu

9. Sili

10. Udang

11. Belut

Aku akan menceritakan bagaimana cara memancing dan mendapatkan ikan-ikan
tersebut.

1. Memancing ikan Uceng

Rata-rata anak-anak di kampungku sekolah dua kali sehari yaitu sekolah "SD"
dan sekolah "Arab" tidak terkecuali aku. Sekolah SD pulang jam 12 siang dan
sekolah "Arab" masuk jam setengah dua dan pulangnya jam 5 sore. Hari Sabtu
sore sesudah pulang dari sekolah "Arab" sebutan untuk sekolah Madrasah
dikampungku, aku dan gengku Adib, Najib dan Usman sudah ngumpul di rumah
Sani. Sani adalah suhu senior dalam hal memancing. Selain peralatan
memancingnya yang lengkap (peralatan tradisional), dia juga banyak punya
cadangan "walesan" atau joran. Persiapan sore itu sudah sangat mantap.
Magrib kami sudah harus pulang karena sesudah maghrib harus "ngaji" ditempat
mbah Juweni. Jarak rumah kami berdekatan, hanya Usman yang agak jauh yaitu kira-kira 500 meter dari rumah Sani. Minggu pagi tinggal mencari umpan.
Minggu ini rencana kami adalah memancing "uceng".

Menungggu Minggu pagi adalah siksaan yang sangat berat karena sudah
terbayang-bayang terus kalau paginya akan memancing. Entah jam berapa aku
tidur pada malam itu, tapi dengan agak terkejut aku terbangun dan ternyata
sudah subuh. Dengan semangat aku langsung bangun dan berlari kerumah Sani.
Sesampai dirumah Sani bukannya diterima dengan senyum tapi malah dimarahin.
Disuruhnya aku sholat dulu, kalau nggak nanti akan dibilangin sama "mbah
Nyai", mbah Nyai adalah sebutan ibuku, aku sendiri nggak tahu kenapa semua
orang memanggilnya demikian. Aku paling takut dimarahin emakku. Aku tidak
membantah dan menurutinya, lantas aku meminjam kain sarung yang kedodoran.
Jam 6 pagi semuanya sudah ngumpul, dan Usman sudah membawa cacing yang
terlihat dari tangannya yang membawa bungkusan daun keladi. Berangkatlah
kami ke kali Cengek

Ikan Uceng sesuai dengan namanya adalah ikan yang ukurannya sebesar
"uceng-uceng" (sebutan untuk sumbu kompor dikampungku). Ya, besarnya sesumbu kompor dengan diameter 1 s/d 1.5cm dengan panjang sekitar 6-10 cm. Ikannnya adalah belang-belang tanpa sisik dan punya kumis. Ikan ini hidup di air
tawar yang mengalir.

Alat alat dibawah ini sudah disiapkan semua oleh Sani dan Usman yaitu:

a. Joran khas untuk Uceng yaitu "sodo kolang kaling" yaitu lidi pohon enau
yang dibersihkan dari daunnya. Kemudian kita ukur dengan jengkal kita dengan
hitungan: "Blung", "Trucuk", "Caplok", "Jendel" secara berurutan, yang
terakhir harus "jendel". Hitungan ini kami dapatkan secara turun temurun.

Kalau panjang jorang terakhir dalam hitungan "Blung" artinya umpan kita
jarang dimakan ikan.

Kalau panjang jorang terakhir dalam hitungan "Trucuk" artinya umpan kita
sering dicium dan disenggol ikan, tapi tidak sampai dimakan.

Kalau panjang jorang terakhirdalam hitungan "Caplok" artinya umpan kita
sering dimakan ikan tapi jarang tersangkut dimata pancing.

Kalau panjang jorang terakhir dalam hitungan "Jendel" artinya umpan kita
sering dimakan ikan dan ikan tersangkut dimata pancing.

Dari beberapa walesan aku ambil yang cocok dengan ukuran jengkalku yaitu
harus "jendel" pada hitungan terachir.

b. Kenur khas untuk Uceng yaitu rambut gadis kampung. Banyak gadis-gadis
desa yang punya rambut lebih dari satu meter. Beruntung aku punya tetangga
anaknya Pak Sulaiman yaitu : Anisah, Asrifah dan Eni yang ketiga tiganya
punya rambut sampai di betis. Satu lagi Mbak Atikah tapi sudah punya suami
sehingga segan kalau mau meminta rambutnya.

c. Mata kail khas untuk Uceng yaitu kawat rem sepeda/sepeda motor yang sudah
diurai dan diasah. Panjangnya kira-kira 1 cm dibengkokkan dengan paku kecil

d. Pemberat biasa kami sebut timbel yaitu gotri atau peluru senapan yang
kita pipihkan. Satu gotri bisa dibagi menjadi 4 pemberat

e. Umpan untuk uceng adalah cacing pohon pisang. Cacing ini hidup dipohon
pisang yang daunnya sudah agak busuk. Cacingnya halus dan kecil berwarna
kemerahan, kemudian kita bungkus pakai daun keladi supaya tetap hidup sehat.

Cara memancing uceng ini cukup unik, yaitu kita berderet ditengah sungai
yang dalamnya kira-kira 50 – 60 cm. Uceng ini jumlahnya sangat banyak.
Sekitar jam 6.15 kami berlima berderet ditengah sungai. Air sungai masih
terasa sangat dingin dan mengeluarkan asap, kakiku terasa masuk kedalam air
es. Belum cukup satu menit Najib dan Sani sudah menghentak dan memutar joran
"iwirrrr-iwirrr-iwirrrrr", berarti 2 ikan uceng sudah didapatkan. Yang paling rame adalah apabila kami berlima mendapatkan uceng yang bersamaan.
Kami merasakan kamilah yang menguasai kali Cengek dengan teriakan-teriakan
kami. Feeling kita sangat dibutuhkan untuk mendapatkan uceng, karena ikan
uceng makannya sangat halus. Apabila sudah terasa getaran diujung joran maka
akan kita sentak. Dan apabila sudah terasa uceng terangkat maka akan kita
putar seperti baling-baling helicopter sambil mulut kita berteriak "
Iwirrr-iwirrr-iwirrr-iwirrr". Awalnya aku nggak tahu tujuannya untuk apa,
akhirnya tahu juga. Tujuannya adalah supaya uceng kita tidak terlepas dari
mata kail dan mungkin uceng itu pusing sehingga diam saja ketika dilepas
dari mata kail yang tidak ada "grethelan"nya. Untuk tempat ikannya biasanya kita pakai tas kresek yang kita ikatkan ke pinggang. Pagi s/d dhuhur bisa
kita dapatkan 90 - 120 ekor. Aku yakin di dunia ini mungkin hanya di
kampungkulah ada cara memancing yang unik ini. Jam 11.30 ketika keluar dari
sungai kaki kami sudah membiru dan keriput saking dinginnya. Dari lima orang
pemancing terkumpul kurang lebih 500 ekor uceng. Kami berlima pulang menuju
rumahku, emakku meskipun tidak suka melihat aku memancing, tetapi sangat
perhatian pada kami. Sehingga ketika kami pulang sudah disediakan nasi
hangat. Najib mempersiapkan api ditungku dan Adib mencuci ikan. Sementara Usman mempersiapkan bumbu garam dan bawang putih. Kami suruh yu "Ni" pembantuku untuk menggorengkan uceng yang baru saja kami dapatkan.

Ikan ini rasanya gurih minta ampun membersihkannyapun sangat mudah, hanya dicuci tanpa perlu dibuang kotorannya, mungkin karena terlalu sedikit
kotorannya sehingga tidak terasa pahit ketika digoreng. Bumbunya cukup garam
ditambah bawang putih kalau suka. Bisa juga ditambahkan tepung untuk jadi
rempeyek uceng. Dimakan dengan nasi hangat wah rasanya nendang buanget. Kami berlima makan bertambah tambah. Bersambung.........

Kamis, 19 Maret 2009

casting gabus dengan casper

Ini dia report dari kane di malaysia. Dengan casper ukuran medium dapat gabus lumayan gede.

soni magelang

*IKAN-IKANKU SAYANG, IKAN-IKANKU MALANG* (1)

*IKAN-IKANKU SAYANG, IKAN-IKANKU MALANG*

*Artikel ini menceritakan kisah nyata kehidupanku yang tidak pernah terpisahkan dengan air dan ikan. Kisah nyata ini aku bagi menjadi beberapa periode diantara 2 lokasi yaitu sungai dan laut: A. Memancing di Sungai pada tahun
1970 – 1977 (lokasi di Salatiga)*


*IKAN-IKANKU SAYANG, IKAN-IKANKU MALANG*

Kisah nyata pemancing mania

Diceritakan oleh: Papania (Son Ani)


Aku dilahirkan disebuah desa yang sangat makmur, dengan pemandangan alam
yang luar biasa indahnya. Namanya desa Tingkir. Desa Tingkir terletak di
Jawa Tengah bagian tengah, dahulu ikut ke Kec, Tengaran Kab. Semarang, tapi
sekarang diambil alih oleh Kota Salatiga, jadi Kecamatan Tingkir, kota Salatiga. Tingkir adalah desa yang sangat strategis karena dikelilingi sungai dan gunung. Persawahan menghampar bagaikan permadani hijau, permadani yang bertingkat-tingkat mengikuti alur "galengan" atau pematang, berbagai
macam burung berkicau setiap hari mulai dari burung "pleci" burung yang
paling kecil sampai dengan burung "bangau tong-tong" yaitu burung sawah yang berwarna putih dan besarnya hampir sama dengan angsa. Karena "papringan" (perkebunan bambu) dan perkebunan kelapa ada dimana-mana maka burung "blekok" dan tupai juga sangat banyak. Ada tiga sungai yang mengelilingi desaku yaitu : Kali gedhe, kali Cengek, dan kali Buket. Kali gedhe adalah
sungai yang terbesar dikampungku. Sungai ini penuh dengan bebatuan sebesar
kerbau, bebatuan ini berasal dari letusan gunung Merapi beberapa puluh tahun
yang lalu. Lebar sungainya 5 – 15 meter dengan kedalaman 1- 3 meter, saking
jernihnya pasir dan bebatuan didasarnya kelihatan. Sedangkan kali Cengek
adalah sunggai yang mengalir ditengah-tengah perkampungan yang memisahkan
desa Tingkir tengah dan Tingkir Lor. Lebar sungainya 5- 10 meter dengan
kedalaman 50- 150 cm. Sama dengan kali gedhe, air di kali Cengek ini juga sangat jernih, hanya bebatuan besar nggak begitu banyak. Sementara kali
buket adalah sungai yang karena tekstur tanahnya tanah liat maka tidak pernah bisa jernih. Itulah sejarahnya kenapa dikatakan kali buket. "Buket"
artinya keruh. Kali buket adalah sungai yang paling kecil dan terletak di
desa Tingkir Tengah. Sumber mata air dari ketiga sungai ini adalah "Senjoyo"
selain ada tambahan air dari Kali Krasak yang berhulu di lerang gunung Merapi. Beberapa gunung juga berdiri kokoh didepan mata selain gunung Merapi
yaitu gunung Merbabu, gunung Sindoro dan gunung Telomoyo. Selain itu kurang
lebih 15 km dari kampungku ada sebuah rawa namanya Rawa Pening. Udara
kampungku sangat bersih dan suhu rata-rata adalah 18 derajat celcius, sejuk,
segar dan bersih. Aku tidak bisa menceritakan keindahan kampungku hanya dengan kata-kata. Kata-kata seindah apapun akan kalah indah dibandingkan dengan kenyataan yang ada. Jarak desaku ke Semarang adalah 50 km dan ke Solo juga 50 km. Sedangkan dari Yogja ~65 km. Mata pencaharian penduduk adalah petani, penjahit dan pembuat kue (home industri). Aku merasa sangat beruntung dan bersyukur dilahirkan didesa ini benar-benar "gemah ripah loh jinawe".

Aku adalah anak seorang kepala desa, badanku kecil tapi kekar, ciri khas
"asli" anak desa, Bapakku sangat dihormati di kampung sehingga beliau
diangkat sebagai lurah seumur hidup. Namanya KH. A Dardiri beliau menjadi
lurah ~42 tahun lebih lama dari Pak Harto menjadi Presiden.

Aku tidak akan menceritakan lebih lanjut mengenai sepak terjang almarhum
Bapakku sebagai lurah, tetapi akau akan menceritakan keadaan alam sekitarku
yang sangat indah dan kegiatan-kegiatan yang dilakukan anak-anak kampung
khususnya kau dan gengku untuk mendapatkan berbagai jenis ikan, udang dan belut. Kampungku sangat menarik perhatian para pemancing, mulai dari anak
kecil sampai dewasa. Pemancing-pemancing dari kampung lain akan mendatangi kali Gedhe untuk memancing. Bahkan Roy Marten, Rudy Salam dan teman-temannya sering memancing dibelakang rumahku yaitu di kali gedhe. Aku bisa menyaksikan orang-orang memancing dari jendela kamarku yang memang menghadap ke kali Gedhe, hanya 15 meter menuruni jurang dan jalan setapak.

Aku punya teman namanya: Adib, Najib, Sani dan Usman. Usia kami tidak sama,
Adib yang paling muda yaitu lebih muda enam bulan dibandingkan dengan
umurku, sementara Najib dan Usman 2 tahun diatasku dan Sani 5 tahun
diatasku. Meskipun aku termasuk yang muda tapi orang-orang kampungku
memanggilku dengan sebutan "Lek Son", termasuk Sani. Karena aku termasuk
yang di"tuakan" dikampungku. Kami berlima terkenal cukup bandel. Hobi kami
sama yaitu olah raga dan mencari ikan. Adib dan Najib juara Ping-pong se
kecamatan, sedangkan aku dan Usman adalah juara karate se kodya Salatiga
bahkan aku sempat ikut kwalifikasi PON tapi gagal, karena kalah dengan
"simpe"ku sendiri yang bernama Budhi Purwako. Sementara Sani adalah jago
elektronik. Keempat temanku inilah yang punya keahlian masing-masing dalam
memancing ikan. Aku mulai mengenal memancing sejak usia 5 tahun yaitu pada
tahun 70-an. Saat menceritakan pengalamanku yang indah ketika di kampung ini usiaku sudah 42 tahun. Rasanya ada panggilan hati yang begitu kuat untuk menceritakan kejadian kejadian 33-37 tahun yang lalu dan kondisi sekarang kepada para pemancing mania yang cinta akan lingkungan dan habitat.

bersambung

Rabu, 18 Maret 2009

bawal dengan petex dan casper

Sama2 ampuh ternyata


soni magelang

pengalaman mancing waktu kecil (bagian kelima)

pengalaman mancing waktu kecil (bagian kelima)

oleh : Irwin Ismail

Kejutan ternyata datang saat pulang mancing, bukan minggu depan! Orang di
rumah terlihat sibuk. Ada apa?

Ternyata, hari minggu itu kakak saya, tetangga si Salim, datang ke rumah
siang2. Waktu ditanya 'mana si irwin?' kakak saya cuma mlongo.. Ramailah
suasana saat itu. Sial!. Huru hara itu berakhir dengan disitanya lagi joran
dan perlengkapan mancing saya. Sekali ini, ibu saya yang menyita, dengan
hukuman: tidak boleh keluar lagi minggu depan tanpa alasan apapun!.

Sebagai 'penebus dosa', minggu itu saya jalani sebagai anak yang tekun.
Pulang sekolah saya langsung membantu sana sini, supaya hukuman di batalkan.
Senin sampai sabtu siang hal itu saya jalankan. Tapi tidak ada tanda2
kemarahan ibu saya surut. Memang, hal itu sudah tidak jadi bahan pembicaraan
lagi, tetapi hati saya masih cemas memikirkan janji dengan Salim esok hari.

Sabtu sore, saya cuci mobil ayah lagi, walaupun masih bersih. Rupanya hal
ini di perhatikan oleh ayah, dan beliau menanyakan: apa sih enaknya mancing
itu?. Dengan antusias, semua pengalaman mancing saya ceritakan. Rupanya
cerita itu membuahkan hasil. Mungkin beliau kasihan melihat keadaan saya
saat itu. Terjadilah 'nego tingkat tinggi' yang baru saya ketahui bertahun2
kemudian. Hasil akhir, joran yang tadinya disimpan di kamar ibu, sabtu malam
itu tergeletak di kamar saya. Luar biasa senang rasanya melihat hasil karya
itu masih utuh. Tinggal 1 langkah lagi menuju kepastian... Selesai makan
malam, ibu minta di pijit. Hhhh... now or never!. Rupanya dewi fortuna masih
malas jauh2 daru saya. Maka keluarlah 'perjanjian kursi malas': harus pulang
sebelum jam 5 sore, atau joran kembali di sita!.

Minggu pagi, sekali ini dengan terang2an, saya mempersiapkan semuanya dengan
lebih matang. Joran diikat di sepeda, plastik buat tempat ikan disiapkan,
dan 2 kaleng sarden penuh cacing!. Untuk makan siang, saya lebih suka bawa
roti dan minuman 2 botol. Lucu juga kalau diingat, itu sepeda seperti mau
dibawa touring kemana gitu...

Sekali lagi, saya sampai di kolam lebih dulu dari Salim, dan saya langsung
mencari lobang2 kecil di pinggir kolam, dimana minggu lalu saya lihat tempat
udang bersembunyi. Untuk keperluan ini, saya sudah membuat rangkaian khusus
untuk udang, dimana kenur tidak di ikat ke joran, karena langsung saya
pegang ujung yang satunya. Rangkaian ini hanya terdiri dari kenur yang di
ujungnya diikatkan kail, dan ujung satunya lagi di ikatkan ke gabus bekas.

Lobang2 di pinggir kolam itu ternyata di isi oleh banyak udang. Itu terbukti
dari lobang ke tiga yang saya letakkan cacing di depannya, langsung keluar
udang sebesar kelingking. Saya diam tidak bergerak, menunggu udang mulai
menyantap cacing, dan dengan gentakan pelan kenur saya angkat. Hasilnya
mengecewakan. Udang lepas, dan langsung kabur masuk kelubang lagi. Berkali2 kejadian ini berulang, dan si udang tetap lepas tidak terkait.

Karena kesal dan mungkin juga pegal, karena posisi mancing yang membungkuk
ke kolam, maka pada tarikan kesekian, kenur yang niatnya saya gentak, malah
cuma terangkat perlahan. Kejutan !. Malah dengan cara ini si udang tetap
bertahan memegang cacing dengan capitnya sampai keluar kolam!. Segera, udang itu masuk ke plastik yang saya bawa..

Saat Salim tiba, dia heran melihat saya membungkuk-bungkuk ke kolam,
disangkanya saya mencari sesuatu yang jatuh. Saat itu plastik saya telah
terisi dengan 3 atau 4 ekor udang yang paling besar seukuran jempol. Melihat
cara saya memancing udang, dia memutuskan sebagian kenurnya, dan membuat rangkaian yang sama. Sepagian itu, kami hanya sibuk membungkuk ke kolam, dan masing2 berhasil menaikkan belasan ekor udang!.

Puas dengan hasil udang itu, kami makan siang bersama. Kali inipun Salim
juga membawa makanan, jadi tidak usah susah2 pulang lagi kerumah. Selesai
makan, kami mulai mancing mujair lagi, dan sekali lagi terjadi kejutan..

Karena sebetulnya saya masih ingin meneruskan mancing udang, maka lemparan yang biasanya di arahkan ke gerombolan ikan mujair, sekali ini saya lempar agak ke pinggir dekat dengan bunga teratai. Joran lalu saya letakkan begitu saja di dekat reel, dan rangkaian udang kembali saya pegang. Baru saja saya
mau membungkuk lagi, tiba2 joran saya seperti ditarik cukup keras, dan reel
saya meng-gelinding berputar-putar dan akhirnya tercebur ke kolam.

Saya langsung naik pitam, karena saya pikir itu pasti karena ulah gerombolan
anak2 yang sering membuat acara mancing kacau dengan ulahnya berenang di kolam!. Pastilah salah seorang dari mereka berjalan tanpa melihat apa yang
ada dibawah kakinya, dan akhirnya menyeret kenur saya. Tapi.. saat itu tidak
terlihat seorang anakpun. Jadi dengan heran, saya ambil reel yang tercebur
dengan bantuan sepotong kayu, dan mulai menggulung.

Kok nyangkut? .. ah pastilah kail saya nyangkut lagi di tanaman teratai.
Waktu reel digulung lagi, tiba2.. jburrr.. ada ikan lompat didekat teratai
sana. Hati mulai deg-degan, dan kosentrasi penuh ke arah teratai, karena
mata masih ber-kunang2 sehabis jongkok di pinggir kolam tadi. Salim juga
memperhatikan. Setengah berlari kearah teratai, cepat2 reel saya gulung..
dan ternyata seekor ikan gabus sepanjang kira2 30cm telah memakan umpan.

Untuk saya, hari ini cukuplah sudah. Belasan ekor udang, dan seekor gabus!.
Ternyata cerita2 tentang ikan gabus di kolam Lembang ini memang benar, dan
saya telah memiliki buktinya. Hari masih sekitar jam 4 ketika kami pulang,
sementara saingan kami si topi lebar masih asyik mancing di ujung sana...

Begitulah kira2 kenangan manis ttg mancing di masa kanak2 yang masih bisa di ingat. Bertahun2 Situ Lembang menerima saya sebagai pemancing di kolamnya.
Pada saat Salim pindah rumah -kalau tidak salah ke daerah Cawang, dan tidak
pernah bertemu sampai sekarang- maka cerita Situ Lembang pun menjadi
sejarah...
Mancing, bagi saya pun selesai saat itu, sampai tiba masanya kuliah, dimana
kembali bertemu dengan kawan2 se hobi.

Selasa, 17 Maret 2009

casting lele pakai poni bibless

Akhirnya poni bibless bisa dapat lele juga deh...

soni magelang

pengalaman mancing waktu kecil (bagian ke empat)

pengalaman mancing waktu kecil (bagian ke empat)

oleh : Irwin Ismail

Anda pernah menunggu selama seminggu? Sungguh lama waktu berjalan, rasanya sehari itu ada 48 jam, bukannya 24!. Setelah lelah menunggu, akhirnya hari
minggu pun tiba. Nah, sekarang saya mulai memikirkan: apa lagi alasan untuk
pergi ke rumah kakak saya pagi2 begini? Ternyata, urusan meminta SIM sudah
ada dalam bentuk nya sendiri sejak dahulu.

Ke ibu - komandan lapangan di rumah - saya bilang bahwa saya mau pergi
kekakak naik sepeda. Ibu, heran dengan keinginan anaknya yang tiba2 jadi
rajin ke kakaknya bertanya: minggu lalu kamu kesana sehari penuh, sekarang
mau kesana lagi pagi2 begini, sebetulnya apa yang menarik kamu?. Agak
tergagap juga saya memikirkan jawabnya, akhirnya: ya bu, disana ada teman
baru yang baik, namanya Salim. Dia jago main layangannya..

Akhirnya, saya di ijinkan pergi dengan pesan supaya jangan pulang terlalu
sore. O ya.. selama ini, joran kebangggan selalu disimpan dengan rapi di ...
atas pohon mangga dirumah!. Kejadian 'perampasan' pancingan dulu masih membekas dengan dalam di hati. Maka, setelah mengantongi SIM, saya mulai
manjat pohon mangga untuk mengambil joran. Celaka.. rupanya ibu masih
memperhatikan.. dan beliau bertanya lagi: hei, kamu mau apa manjat pohon
pagi2 begini?.. Kebetulan, mangga saat itu memang sedang berbuah walaupun
belum masak, maka jawab saya sekenanya: mau liat2 mangga, bu.. siapa tau ada yang udah mateng, ibu mau?...

Drama di pohon mangga itu berakhir dengan beberapa buah mangga yang mulai memerah. Sekarang, dengan cepat2 saya naik ke pohon sekali lagi, melepaskan
ikatan tempat joran di cabang yang cukup tinggi, dan turun dengan mata jelalatan ke bawah, kalau2 ada orang yang memperhatikan. Di cabang terakhir,
karena mata selalu menyapu kearah dalam rumah, kaki saya terpeleset, dan...
bummmmmm....seperti karung goni saya jatuh kebawah...

Sakit, tapi penuh ketakutan saya segera beringsut2 kebelakang tong didekat
sumur. Masih kesakitan, saya mengintip.. ternyata aman.. tidak ada orang
yang melihat atau mendengar kejadian barusan. Hhhh... saya masih duduk
menahan sakit ketika terdengar suara ibu lagi: win, kamu ga jadi pergi?
sepedanya kok masih disini?. 'ya, ini udah mau jalan kok bu.. pergi ya... '.
Cepat2 joran saya ikat ke batangan sepeda biar tersamar, dan pergi keluar
dengan langkah biasa, walaupun sebetulnya masih sakit untuk jalan.

Kayuhan pertama langsung terasa: ternyata kaki saya bengkak cukup besar
karena jatuh tadi. Dengan menahan sakit, sepeda tetap di kayuh. Sebetulnya
dalam keadaan normal saya hanya butuh waktu paling lama 20 menit untuk
sampai ke situ Lembang, tapi sekarang.. apa lagi tanjakan terakhir di jl
Teuku Umar, terasa amat panjang!. Saya tiba lebih dahulu dari Salim, dan
sekarang baru sadar: kaleng sarden bekas yang berisi cacing saya tinggal di
rumah!.

Ternyata setengah jam pertama saya habiskan untuk mengurut kaki, selagi
menanti Salim tiba. Mujur buat saya, perlahan-lahan rasa sakit dan bengkak
mulai berkurang. Akhirnya Salim muncul dari ujung jalan, dan langsung menuju
kearah saya. Setelah menanyakan kenapa saya meringis2, dan mendengar cerita
saya, dia tertawa terbahak-bahak. Sial, orang udah sakit kok malah di
tertawakan?..

Untung, Salim membawa cacing cukup banyak di kaleng bekas susunya.
Terpincang2 saya mulai mancing, dan sampai siang bahkan berhasil menang
tipis dalam perolehan ikan. Siang tiba dengan amat cepatnya. Panas dan
lapar.. tapi saya tidak punya uang buat makan atau jajan lainnya. Salim juga
begitu. Akhirnya Salim pulang untuk makan siang, dengan janji akan kembali
ke taman Lembang dengan membawa makan dan minuman dari rumahnya.

Waktu Salim pulang makan, saya mencuri start untuk belajar melempar umpan
dengan menggunakan joran. Lima lemparan pertama berakhir dengan tragis:
kusut di ujung joran, kenur terinjak saat di ulur, dan jatuh hanya 1 meter
dari pinggir kolam. Untung, umpan tidak nyangkut dipohon lagi. Waktu umpan
jatuh di pinggir kolam itulah saya kebetulan melihat seekor udang sebesar
ibu jari mencoba mengambil cacing dari kail saya. Hmmm.. nanti ini akan jadi
selingan yang menyenangkan, pikir saya. Lemparan2 selanjutnya, saya mulai
bisa menguasai arah dan jauhnya umpan. Akhirnya saya hanya mencoba casting
tanpa umpan, dan hasilnya tidak begitu jelek.

Satu jam berlalu, dan Salim menepati janjinya. Makanlah saya dengan lahap
sembari mata tidak lepas dari melihat pelampung. Sekitar jam 2 siang,
pemancing dengan topi caping lebar kembali muncul, dan karena kami telah
duluan menempati lokasi strategis, maka dia duduk tidak jauh dari tempat
kami mancing. Bergantian kami menarik ikan2 mujair yang seperti tidak ada
habisnya.

Belum bosan saya mancing, ketika sadar bahwa matahari sudah mulai condong ke
barat. Lagi2 saya harus pulang, daripada menghadapi hukuman. Kami berpisah
lagi di situ lembang, dengan janji minggu depan akan bertemu lagi disini.
Dalam hati saya membatin: hmmm... minggu depan akan ada kejutan!.

Senin, 16 Maret 2009

pengalaman mancing waktu kecil (bagian ketiga)

pengalaman mancing waktu kecil (bagian ketiga)

oleh : Irwin Ismail

Ok, sekarang dengan gagang joran yang telah siap, kami tinggal menambahkan
kolongannya. Hal ini kebetulan tidak begitu susah, karena ada si bapak
tukang kayu yang ternyata siap membantu kami. Masalahnya cuma satu: bahan bakunya. Kawat untuk kolongan itu haruslah cukup kaku, seperti... seperti...
ya kawat jemuran pakaian. Nah.. sekarang siapa yang berani memotong kawat
jemuran di rumahnya?.

Salim dan saya akhirnya sepakat untuk mengundi dengan cara 'suit'. Yang
kalah harus mengusahakan kawat. Ternyata, Salim yang kalah dan bertugas
mengusahakan kawat tersebut. Dia merencanakan kawat akan sudah ada pada hari minggu berikutnya. Hari minggu berikutnya? ya.. karena kemungkinan kami
bertemu hanyalah hari minggu, karena keterbatasan waktu di hari2 biasa.

Akhirnya, setelah penantian yang lama, hari minggu pagi2 saya sudah
berangkat dengan sepeda (o ya.. waktu itu untuk pergi kemana-mana anak
seusia saya selalu naik sepeda) ke rumah Salim. Ternyata dia sudah tidak ada
di rumahnya, dan setelah saya cari2 dia sudah berada di pondokan pak tukang
kayu dengan kawat yang diperlukan. Pembuatan kolongan itu tidak susah sama
sekali dengan bantuannya. Memasang ke joran pun tidak mengalami masalah
berarti. Akhirnya siang itu kami masing2 sudah memegang joran dan reel
masing2, siap untuk tempur!.

Setelah pulang untuk makan siang (saya makan siang di rumah kakak), saya
pergi lagi ke rumah Salim yang hanya beberapa rumah di sebelah rumah kakak.
Sekali ini tugas kami berdua adalah mencari cacing untuk umpan. Karena
pengalaman dulu, yang di lakukan terus menerus, maka cacing sudah tidak
membuat saya jijik seperti dulu lagi. Cacing tidak sulit di temukan di rumah
Salim, karena banyak pot tanaman yang terdapat disana. Sempat saya melirik
ke arah tempat jemuran, dan memang, terlihat ada bekas potongan kawat di
sana. Saya memutuskan untuk tidak bertanya ke Salim tentang usahanya
memotong kawat.

Jam 13:30, kami sudah mengayuh sepeda menuju taman situ Lembang yang masih
ada sampai sekarang. Hanya butuh waktu 10 menit, dan kami sudah mulai
mengitari kolam itu mencari-cari tempat yang di perkirakan ada ikannya. Agak
di tengah, terlihatlah puluhan, atau mungkin ratusan mulut mujair sedang
megap2 dipermukaan. Sepeda pun kami parkir, dan buru2 kami memasang cacing
kekail. Sedikit berlari, kami seakan berlomba melempar umpan ke arah
kerumunan ikan itu.

Hmmm.. saya lupa, bahwa itu pertama kalinya saya melempar umpan dengan
joran, pakai 'reel' lagi!. Ternyata, lemparan kami sama bagusnya: semua
umpan dan pelampung sekarang tergantung-gantung di dahan pohon di dekat kami. Sejenak kami berdua saling berpandangan, dan tanpa komando, kami
tertawa terbahak2 sampai keluar air mata. Ohhh.. rupanya tidak semudah itu
melempar umpan!. Sambil masih tertawa, kami mulai memanjat pohon untuk
melepaskan umpan masing2.

Upaya melepaskan umpan ini memakan waktu sekitar 30 menit, waktu yang amat
berharga sekali buat saya. Seturunnya dari pohon, kami lihat ternyata sudah
ada seorang pemancing yang memakai topi caping lebar, dan memakai joran
bambu yang panjangnya sekitar 3 meter (mungkin lebih..) duduk di tempat kami
melempar umpan tadi. Kesal dan kecewa, tapi tidak banyak yang bisa kami
lakukan selain pindah ketempat lain.

Begitu kami mulai bersiap untuk melempar umpan lagi, kami lihat si topi
lebar sedang mengangkat seekor mujair selebar 3 atau 4 jari dari kolam. Kami
terdiam memperhatikan. Karena jorannya yang panjang, dia tidak menggunakan
reel, dan kenurnya langsung di ikat di ujung joran. Kenurnya pun terlihat
lebih panjang sedikit dari jorannya. Jadi, dia bisa menjangkau jarak setidak
nya 6 meter tanpa susah2 melempar umpan seperti kami.

Cepat2 kami melempar umpan kami. Sekarang dengan lebih berhati2. Kenur di
tarik keluar dari reel, melewati kolongan joran paling ujung, dan .... di
lempar dengan tangan! Tidak sampai lama, pelampung kami masing2 sudah
bergoyang, dan dengan cepat joran kami gentakkan. Berhasil!!... mujair kami
hampir sama ukurannya, dan segera masuk ke kantong plastik bocor yang dengan buru2 kami cari di pinggiran kolam sana.

Rupanya kegembiraan untuk pergi mancing membuat kami lupa untuk membawa plastik dari rumah untuk tempat ikan yang didapat. Berganti2 kami melempar umpan, dan berhasil mengumpulkan 7 atau 8 ekor mujair di plastik bocor itu.
Tiap sebentar, kami bergantian bertugas mengisi air di plastik tersebut. Tak
terasa, hari sudah mulai sore, dan.. kalau tidak mau kena hukuman, saya
harus segera pulang!.

Ikan2 mujair ukuran 2-4 jari hasil tangkapan hari itu saya percayakan ke
Salim, yang berjanji akan memelihara di akuariumnya. Kami berpisah di sana,
pulang kerumah masing2 dengan janji untuk bertemu hari minggu depan langsung di situ Lembang.

casting di Cilegon dapat gabus

Report dari mas Opay...


soni magelang

Minggu, 15 Maret 2009

pengalaman mancing waktu kecil (bagian kedua)

begin:vcard
fn:Adi Wisaksono
n:Wisaksono;Adi
adr:Ds. Danurejo;;Jl. Raya Mertoyudan Km. 4,5 Japunan;Magelang;Jateng;56172;Indonesia
email;internet:hampala234@yahoo.co.id
title:Rumah Makan Ayam Goreng Kembang Sari
tel;work:0293 325514
tel;home:0293 325513
tel;cell:08562910578,08122981403
note:http://maglure.blogspot.com/
url:http://hampala.multiply.com/
version:2.1
end:vcard


pengalaman mancing waktu kecil (bagian kedua)
oleh : Irwin Ismail

Setelah sekian tahun berlalu, waktu ikut bertandang ke rumah kakak, saya
dapat teman baru. Namanya Salim. Entah dimana dia sekarang berada. Dari
mulai main sepeda, main gundu, mengetapel burung, main layangan,
berkelahi bersama, sampai akhirnya.. mancing lagi!. Dari dialah saya
mengetahui bahwa ada toko kecil yang menjual kail dan kenurnya didekat
rumah kakak saya disana. Kali berikut saya ke rumah kakak, uang simpanan
di celengan saya bawa semua.

Dari rumah Salim kami bersepeda ke dekat pasar rumput sekarang, dimana
toko itu berada. Mencari toko itu sebetulnya tidak susah, tapi jangan di
samakan dengan pasar rumput jaman sekarang!. Toko, atau mungkin lebih
tepatnya warung kecil itu berada ditengah2 salah satu gang kecil di
belakang daerah pasar rumput sekarang. Tanpa ingatan Salim yang bagus,
rasanya mustahil kami menemukan warung itu, dan bisa pulang ke rumah
kakak sesudahnya.

Penjualnya seorang bapak tua dengan kacamata yang mlorot ke tengah
hidungnya. Suaranya kalau tidak salah ingat seperti terlalu banyak
treble di banding bass nya. Cempreng!. Tapi tak disangka, dia bersedia
mengajarkan bagaimana membuat rangkaian yang bagus, yang katanya lagi,
jarang putus. Setengah dari warung itu berisi barang2 yang berhubungan
dengan kegiatan memancing ikan, dan setengahnya lagi di isi dengan
segala macam tembakau. Sungguh suatu kombinasi yang aneh!.

Dengan uang simpanan, saya beli 5 atau 6 kail (yg jelas tidak sampai 10
kail) berwarna hitam, pemberat, pelampung dan tidak lupa kenurnya yang
berwarna putih. Merknya sudah lupa, tapi ada gambar orang memancing di
gulungan kenurnya. Gulungan? sebetulnya tidak tepat di bilang gulungan.
Kenur ini memang digulung, tapi tanpa kelosan apapun, seperti gulungan
kawat nikelin yang kita kenal sekarang. Untuk menggulung kenur itu ke
reel, rasanya diperlukan bantuan orang lain kalau tidak mau kusut. Eh..
apa saya tadi tulis reel?..

Reel disini adalah kelosan dari bambu yang kami cari dan potong bersama.
Setelah itu bambu di haluskan ujung2nya dengan amplas bekas yang didapat
dari tukang kayu yg sedang mengerjakan sesuatu di rumah kakak.
Kebetulan, tidak jauh dari rumah kakak, ada setumpuk batangan bambu,
entah buat apa bambu2 itu tadinya. Dan disanalah kami berkeliaran
mencari-cari batang bambu yang di anggap lurus dan bagus untuk di buat
joran.

Salim, yang badannya lebih tinggi dari saya, segera menemukan bambu
pilihannya dan mulai menggergajinya. Saya masih belum menemukan joran
saya. Satu saat, pada waktu mencari bambu itu, saya seakan melihat
sesuatu yang gelap bergerak meluncur dengan cepat. Karena tidak begitu
perduli, saya meneruskan pencarian bambu. Setelah menemukan bambu ideal,
saya mulai menggergaji bambu itu tanpa menyadari di ujung satunya lagi,
seekor ular mulai marah karena tempatnya melingkar tergoyang2 karena
upaya menggergaji bambu itu.

Salim, yang dengan tekun sedang menghaluskan gagang jorannya duduk tidak
jauh dari saya. Tepat saat bambu itu hampir putus, ular menyerang. Baru
saat itulah saya menyadari apa yang sudah saya lihat sebagai 'bayangan
gelap' tadi. Entah karena kaget atau terpeleset, saya jatuh menimpa
Salim, dan berusaha bangun dengan secepat-cepatnya. Sambil berteriiak
'ulaar.. ularrr!!' saya lari. Salim juga segera lari dengan terpincang2.

Setelah jauh, dengan badan gemetar, kami berhenti. Salim terluka kakinya
entah karena apa. Badannya pun sakit2 menjadi bantalan waktu saya jatuh
tadi. Syukurlah kami selamat. Ada yang lucu: ternyata kami berdua
rupanya lari sambil membawa joran masing2, tapi tidak membawa gergaji!.
Setelah menceritakan pengalaman tersebut ke tukang kayu si pemilik
gergaji, maka dia sendiri yang pergi mencari gergaji itu. Kami hanya
berani berdiri jauh dari tempat tumpukan bambu, dan berteriak2 memberi
isyarat dimana kira2 gergaji itu tadi terlepas.

Tukang kayu yang baik itu sekarang telah kembali dengan gergajinya, dan
malahan membantu kami menghaluskan gagang joran masing2. Kalau diingat
sekarang, sungguh manis kenangan itu. Hanya untuk membuat joran dari
bambu, musti melewati sekian banyak masalah!.


Baiklah, hari ini rasanya sudah sore, dan seperti biasa, saya musti
mandi dulu sebelum kena hukum!.

Jumat, 13 Maret 2009

pengalaman mancing waktu kecil (bagian pertama)

*pengalaman mancing waktu kecil*
oleh : Irwin Ismail

Saya masih ingat pertama kali mancing waktu masih kecil dulu. Belum ada toko
didekat rumah yang khusus menjual peralatan mancing saat itu, kalaupun ada,
saya pasti tidak punya uang untuk membelinya.

Dengan modal benang jahit dan jarum pentul ibu saya, saya mancing ikan sepat
kecil yang sengaja di lepaskan di sumur belakang rumah supaya tidak ada
jentik nyamuk disana. Jarum pentul itu saya bengkok-kan perlahan, dengan
bantuan alat seadanya. Waktu itu saya pakai tang ayah, dan lilin untuk
memanaskan jarum. Entah berapa kali saya lupa memegang jarum yang panas itu
dengan tangan, sehingga jari2 saya melepuh di buatnya. Dengan ketekunan yang
sekarang hilang entah kemana, jarum pentul itu akhirnya berubah bentuk
menjadi kail seperti yang sekarang kita pakai.

Begitu kail buatan itu selesai, maka benang jahit putih milik ibu sekarang
saya ikatkan dengan hati2 di ujung pentolan jarum. Tidak ada ikatan knot
palomar, uniknot, atau sebangsanya yang saya ketahui saat itu. Hanya ikatan
mati biasa. Untuk pemberatnya, saya cari pecahan2 genteng atau serpihan2
semen bekas tembok yang sudah lepas, dan saya pukul perlahan dengan batu
sehingga ujung2 sudutnya yang agak tajam untuk ukuran benang jahit, menjadi
agak tumpul. Sebagai pelampung, saya sudah mengumpulkan beberapa potongan
gabus bekas.

Sekarang rangkaiannya.. dari teman bermain disebelah rumah saat itu, dia
mengajarkan bagaimana merangkai semua itu, dan saya ikuti semua petunjuknya
tanpa kecuali. Selesailah sudah peralatan mancing saya.

Nah sekarang, umpan!. Pergilah saya ke dapur untuk mengambil sedikit nasi
putih yang masih panas. Satu persatu nasi putih itu saya masukkan dengan
hati2 ke mata kail, sampai kira2 menutup 3/4 kail buatan tersebut.

Semua sudah siap, dan hmm... alangkah bangganya saya dengan peralatan
mancing itu!. Tanpa joran, untuk pertama kalinya saya siap mancing!. Benang
di ulur kedalam sumur, dan ujungnya saya pegang dengan tangan. Terlihatlah
pelampung bergoyang-goyang, dan huuuupp.. benang saya sentakkan. Dengan
harap cemas, benang saya tarik keatas perlahan, dan terlihatlah kail kosong
dibawah sana. Nasinya habis, tapi tak ada ikan!. Oh ya .. sumur ini dalamnya
kira2 4 meter dari batas atas semen di mana saya membungkuk kesana.

Terpaksa, upacara memasang nasi ke kail yang saya benci, di ulang lagi.
Nyatanya, sampai mata ini berkunang-kunang di sore hari setelah berjuang
ber-jam2 dengan posisi setengah membongkok, tak satu ikanpun bisa di
naikkan!.

Jam 5 sore adalah ujung batas waktu bermain saya waktu itu, sebelum saya
harus mandi, telah tiba. Permainan hari itu selesai, dan saya harus segera
mandi jika tidak ingin kena hukuman. Hari ini saya kalah!.

Selesai mandi, kegiatan2 lain segera menyusul; shalat, bikin PR, makan.. dan
seterusnya. Walau semua itu saya jalankan, tapi pikiran tentang mancing ikan
masih melekat dengan jelas.

Besoknya, selesai makan setelah pulang sekolah, acara mancing di sumur di
ulangi lagi. Sekarang, dengan di temani kawan dari rumah sebelah. Dengan
membawa peralatan mancingnya sendiri, kami mulai mancing. Hanya sebentar,
kawan itu berhasil mengangkat ikan sepat selebar 2 jari dari dalam sumur.
Haaa? .. dengan tersenyum dia kasih tau rahasianya: umpan nasi ternyata
gampang lepas, dan hari itu dia sudah membawa beberapa ekor cacing sebagai
gantinya.

Cacing?... hiii... jijik betul!. Dengan sabar, kawan itu mengajarkan cara
memasang cacing ke kail, dan dengan amat sangat terpaksa, saya belajar
memegang cacing. Sungguh, berat sekali perjuangan saat itu rasanya. Geli dan
jijik, di tambah dengan bau khas cacing tanah saat di tusuk badannya dengan
kail. Bau ini rasanya tak bisa dilupakan. Dimanapun saya mencium bau ini,
pasti akan saya kenali!.

Nah, sekarang pancing pun turun lagi, dan tidak sampai semenit kemudian
ternyata kail saya berhasil mengangkat seekor ikan selebar hampir 2 jari
dari dalam sumur!!. Teriakan kemenangan terdengar menggema dari dalam sumur,
dan ternyata teriakan itu juga membawa celaka. Karena kaget, kakak saya
datang berlari-lari ke sumur, dan setelah melihat ternyata tidak ada terjadi
apa2, maka marahnya meledak. Maklum, saat itu berlaku peraturan: jam 2 siang
sampai jam 4 sore, semua anak2 seusia saya harus tidur siang. Dengan mata
merah menahan tangis, saya lihat peralatan mancing kebanggaan saya di
ambilnya dengan paksa.


Sampai sini dulu aja ceritanya yah.. soalnya mau nangis dulu...
--

casting bawal dengan casper ukuran medium

Ada 3 ukuran casper, nah dengan ukuran yg medium kayaknya tepat deh. Kalau yg small kayaknya cocok untuk mujair deh..

soni magelang

Kamis, 12 Maret 2009

kenangan dengan Heru Gombong

Tidak terasa sudah setahun berselang meninggalnya sahabatku Heru Gombong alias Hansiong. Teringat dulu menginap berhari2 di rumahnya cuman dalam rangka mancing saja. Benar2 orang yg seluruh hidupnya didedikasikan untuk mancing. Sedemikian seriusnya dia menekuni mancing sampai akhir hidupnya juga gara2 penyakit akibat membikin umpan mancing juga. Sudahlah.. Kebetulan ada foto2 dia pas mancing terakhir di Peltu, popping tuna. Sekedar sebagai pengingat saja.

soni magelang

Rabu, 11 Maret 2009

mancing umpan bohong'an bersama Heyik dan Shoma

Tadinya shoma gak percaya masak mancing gak pake umpan.. Tapi akhirnya
terbukti bisa dapetin. Ikannya juga bermacam-macam mulai dari
managuense, bawal, lele, nila bahkan dapat ikan gabus malas alias
betutu segala.

soni magelang

Minggu, 08 Maret 2009

Wayang Mancing Part 3/3

Part 3/3 ==> TAMAT

Syarat pertama dia lalui .... kemudian dia duduk bersila dia
perhatikan sang Be! gawan berjalan menghampiri Kerucutnya ...sekali
lagi ... orang tua itu membuatnya kagum ... dengan perlahan dia
keluarkan joran ...sangat sederhana ...Berwarna hitam legam
...sepanjang 2 meter ...tampak seperti joran biasa , hanya saat sinar
matahari menimpa tampak garis-garis kecil melingkar-lingkar
sekelilingnya dari ujung hingga hulu ...sangat lemah memancarkan
sinar mutiara .... hanya mata para ahli termasuk Sang Ksatria yang
melihat dan berdecak kagum ... Kyai Sengkelat ...Joran Maha sakti,
perlahan Sang Begawan mengangkat tangannya sedikit memutar joran dan
kemudian melilitkan tali pancing ke Batu kerucut dan dengan sedikit
hentakan terangkatlah batu tersebut keatas kepalanya .... kemudian
dengan teriakan perlahan dilecutkan memutar joran hitam itu dan
dengan suara yang menggiriskan Batu kerucut itu berputar dan meluncur
dengan kecepatan luar biasa menuju kepala sang begawan ...batu
kerucut dengan ujung runcing terbalik meluncur! dengan kecepatan luar
biasa dan dengan dibarengi ledakan dahsyat kerucut tersebut
menghantam bumi ... Debu berterbangan ...semua orang terkesiap ....
Hendra tampak menggeleng-gelengkan kepalanya dengan senyum penuh
kekaguman ... diantara debu yang mulai menipis tampak sosok sang
begawan berdiri diatas batu kerucut tersebut dengan sedikit
terbatuk-batuk.... sesaat hening yang mencekam tersebut pecah oleh
gegap gempitanya sorak sorai menyambut keberhasilan sang begawan yang
sangat kental dengan kecepatan siluman tersebut.

Syarat kedua , Hendra memasang kuda-kuda .... joran perlahan
diangakat keatas lecutan-lecutan kecil mulai terdengar ketika joran
tersebut dia ayun-ayunkan .... makin lama ..makin cepat ...yang
semula lecutan kecil tersebut maulai berubah menjadi ledakan ledakan
dahsyat meme! kakan telinga ..angin menderu mengiringi tiap lecutan,
debu membumbung tinggi ... teriakan keras Hendra mengawali angin yang
membelah dengan dahsyat melaju ... dan dengan dentuman dahsyat
percikan api laksana halilintar menyambar joran dahsyat tersebut
membelah Batu Onix berbentuk bola kristal ... dengan dahsyat Batu
tersebut terbelah dan meninggalkan 2 bh tempurung raksaksa yang sama
persis satu sama lainnya.... kembali sorak sorai membahana mengiringi
keberhasilan Hendra..... Kini telah tersedia dua lapak batu dengan
dua tempurung batu ... Guru negri mengangkat tangannya ... suara
lembut meluncur ketika dia berkata .. Wahai Ksatria nan perkasa kini
telah tersedia dua lapak dan dua loyang yang persis sama ...dapatkah
engkau merelakan satu loyang untuk dipergunakan sang begawan ???
..... Oh Guru Negri yang bijak ...Sang Begawan adalah kakakku maka
segala apa yang engkau pintakan untuknya akan aku penuhi, seandainya
Begawan memin! taku untuk meninggalkan sayembara niscaya itu akan
hamba lakukan. Guru negripun menengok Sang Begawan yang disambut sang
begawan dengan senyum dan anggukan kecil ... dia mengangkat joran
hitamnya kemudian dengan kecepatan kilat dilecutkan jorannya ke salah
satu lingkaran tempurung yang tergeletak didepan Sang Ksatria
....Tempurung batu onix itupun serentak melayang bagaikan daun
kering tertiup angin, loyang tersebut terbang melayang dan hinggap
dengan lembut didepannya bagaikan kapas.....kembali sorak sorai
membahana menyaksikan betapa luar biasa begawan tua ini , kekuatannya
bukan saja dahsyat namun sifatnya yang lembut terpancar pada setiap
lakunya.... Kemudian Sang Begawan berkata :" Duh Guru negeri ...
hormatku selalu aku sampaikan kepadamu yang telah memberikan
kebijakan bagi Sayembara ini"...

Syarat ketiga, Sang ksatria duduk bersila matanya tertutup .... joran
sakti 15 merit berada dipangkuannya matanya terpejam dia
berkonsentrasi ..... jenis ikan apa yang tidak ada di Negri ini
....... Suasana menjadi hening ...hanya angin semilir sejuk yang
terdengar ...Laku semedi dengan segala kekuatan imajinasi mewarnai
suasana, ... Sang Ksatria mengingat kembali ... resiko jika ikan yang
dia dapat ternyata terdapat di telaga istana... hukuman aneh akan dia
terima .."Ikan itu akan dimasukan kedalam tubuhnya melalui duburnya"
4 jam telah lewat dia belum bisa memutuskan, keheningan masih
mewarnai sayembara ...... beberapa menit kemudian terlihat Sang
Ksatria mengangkat jorannya , matanya terpejam ... ketegangan tampak
pada raut wajahnya ....sangat perlahan dimasukannya tali pancing ke
loyang batu tersebut.

Suasana hening mencekam ...menit demi menit berlalu , dan akhirnya
dengan di berengi teriakan Hendra menghentakan Jorannya .... sinar
keemasan langsung berkelibat memancar dan menerangi seputaran
lapaknya dan klepak-klepak ...seekor Discuss sebesar telapak tangan
terangkat menggelepar, luar biasa indahnya ...warnanya Merah maron
dengan bintik keemasan dengan diselingi garis-garis warna mutiara
....sepintas warna tersebut mengingatkan kita pada sosok naga
tiongkok kuno ...indah sekali, pelipis ikan itu bak dihiasi emas
permata berkilauan memantulkan cahaya. Seorang Gadis mungil langsung
mengambil ikan itu dan memasukannya kedalam loyang besar yang telah
disediakan, dia tersenyum melihat ikan itu ...! kemudian matanya
menatap Sang Pendekar dan tersenyum ... mulut mungilnya tersenyum
manis dan berbisik "Ikan yang indah sekali" .. dan ...eh ...mata itu
mengedip sebelah dan senyumnya menjadi tawa , terdengar Guru negri
berkata :"Discuss Golden Dragon" ...ikan yang sangat indah"
...kemudian dia mengibaskan jorannya ke Telaga kerajaan dan
menggeleparlah Discuss Golden Dragon dengan warna dan penampilan yang
persis sama, Cuma besarnya 2 atau 3 kali lipat lebih besar
....seluruh hadirin yang menyaksikan berbarengan melenguh kecewa
.......Oooohhh !!.... Luluh lantak seluruh tulang Sang Ksatria demi
melihat ikan itu, keringat dingin mengucur deras ....matanya terpejam
, betapa menyesalnya dia ...selang beberapa saat diapun berdiri
...sedikit limbung karena kakinya lemas bak tak bertulang , namun dia
kuatkan hatinya ...Dia Sang Ksatria ...mukanya harus tetap tegak
....dengan tenang diapun berjalan mengikuti si gadis yang
mengantarkan ke ruang eksekusi !. ...dia Kalah !!!!

Mukanya tertunduk ketika dia menunggu diruang eksekusi....
merindinglah seluruh tubuhnya terbayang betapa ikan discuss secara
phisik bak seekor ikan nila ... sirip yang penuh dengan duri keras
akan tegak saat ikan tersebut dipaksa masuk melalui duburnya ....Iich
.."Duburnya" .... terobek ...betapa pedihnya ..Oooh walau Cuma
setelapak tangan cukuplah discuss akan meluluh lantakan otot- ototnya
, tanpa terasa muka sang Ksatria menyeringai ...kepedihan luarbiasa
terbayang diwajahnya .... mulutnya terkatup rapat. Para gadis molek
yang bertugas selaku algojo menangkap kepedihan diwajah Sang Ksatria
dengan dingin ...mereka adalah algojo, "Algojo" ....yang hari-
harinya telah terbiasa mendengar jerit raung kesakitan, darah segar
yang mengucur ...bahkan kejut-kejut tubuh yang meregang nj! awa. Tiba
- tiba mereka terkejut melihat perubahan Sang Ksatria ... lirih
mereka dengar mulut itu tertawa ... Hah ! ... benar Sang Ksatria
tertawa , mereka saling pandang ...terdengar ketawa itu aneh
...sedikit pilu ..namun lebih kental dengan kegelian ....aneh ...!

Para Algojo itupun bengong keheranan ....kenapa , ada apa ...apakah
dia gila ??? ....nggak mungkin Ksatria yang demikian gagah berani
...Gila ! ...tidak mungkin ...lalu kenapa ??

Para algojo nan manis jelita itu masih keheranan , walau mata mereka
tetap sedingin es tapi sikap mereka tampak bahwa mereka
mengkhawatirkan keadaan Sang Ksatria yang menurut kata hati mereka
sungguh sangat gagah dan tampan ini ... dan mereka bersama-sama
mengikuti arah pandangan Sang Ksatria ...Oooo.... tampak Sang Begawan
yang melangkah gontai dengan muka tertunduk mencerminkan kekalahan,
melangkah diruang eksekusi .... dan ditangan kirinya terlihat seekor
"Ikan Buntal duri" yang menggelembung sebesar "Durian" !!

TAMAT

ShangHyang in Panorama 2

From: Rusmin Noer

ShangHyang Panorama

From: Rusmin Noer

Diantara 2 kapal, itu Sigit lagi fly. Kecil banget.
:-)

Yang berdiri di jembatan (kiri), Sunu.
:-)

Foto di ShangHyang

From: John Budi

Sabtu, 07 Maret 2009

minnow plastik

Minnow plastik seperti misalnya yg ada di gambar merek Yozuri memang keliatan bagus dan mirip banget dengan ikan. Pembuatannya via pabrikasi sehingga semua produk ditanggung sama. Karena pabrikasi variasi produk juga terbatas dan pilihan warna juga tidak terlalu banyak.
Ada lagi satu kelemahan dari minnow plastik yaitu apabila bocor susah memperbaikinya. Biarpun sudah ditambal tapi keseimbangan sudah tidak bisa stabil, biasanya renangnya ngacau.
Selain kelemahan2 di atas memang ada juga keunggulannya yaitu harganya agak lebih murah, bodinya bisa diisi gotri sehingga bisa bunyi sebagai penarik ikan dari kejauhan.
Mau pilih yg mana? Kayu atau plastik. Monggo saja.


soni magelang