Jumat, 01 Agustus 2008

Kakap Merah Letan!

Kakap Merah Letan!



---------- Forwarded message ----------
From: rusdji


Kakap Merah Letan!

Petualangan Memancing dan Terombang-ambing Setengah Jam di selat Letan Ambon….





Katong naik perahu……….

Perahu naik katong……….



Itulah bait lagu khas Ambon yang kami rubah sairnya dan kami nyanyikan sepanjang jalan dari kota Ambon ke Letan………tentu saja dengan tujuan memancing!



Rencana memancing di Letan sebenarnya agak mendadak, pasalnya kami berencana akan memancing di Hitu – sebuah perkampungan nelayan yang letaknya cenderung lebih dekat dari jalan utama antara Bandara – Kota Ambon. Hitu adalah desa nelayan, sementara Letan adalah daerah yang sangat terpencil dipinggir pantai dan kami harus melewati beberapa anak sungai utk dapat mencapainya.



Saya berada di Ambon sejak Minggu 28 Oktober 2007, untuk memberikan asistensi teknis keredaksian kepada salah satu sindikasi media yang baru berdiri disana.

Pada jumat 2 November 2007 atau akhir sesi pelatihan, telepon genggam saya berbunyi dan diujung suara terdengar Taher seorang kawan lama yang sekarang menjadi Dosen di Universitas Pattimura dengan nada riang menyatakan, bahwa rencana memancing di Hitu, dirubah, karena ia punya spot bagus dan pemandangan di spot itu sangat asri dan perawan!

Sontak saya membayangkan keindahan alam Maluku yang memang sudah terkenal akan pantainya…

Singkat saya jawab: "Oke Her, kau kesini saja dulu, teknisnya nanti kita bicarakan….."

Diujung sana Taher menjawab: "Ale (kamu) tidak usah fikir macam-macam karena saya sudah kerahkan anggota pecinta alam untuk menemani kita dan mempersiapkan segala sesuatunya".



Meski Taher sudah menjamin segala sesuatunya, termasuk alat mengail (memancing) tapi aku tetap merasa bahwa harus membeli persiapan paling tidak standar Handline (kenur, mata kail. Timah dan kili-kili)

Maka disela-sela break pelatihan aku bersama Halid salah seorang peserta pelatihan membeli perangkat tersebut disalah satu toko pancing disekitar pasar Mardika. dan beberapa ekor cumi-cumi segar untuk umpan tentunya.



Singkat cerita hari mulai gelap dan jarum jam menunjuk pukul 21.00 WIT (dua puluh satu waktu Indonesia Bagian Timur). Taher dan "pasukan" pecinta alamnya juga sudah menanti dibawah, maka kami harus "memburu" waktu.

Alat transportasi yang kami pilih adalah motor, kami menyewa tiga buah sepeda motor bebek untuk petualangan ke Letan, mengingat Medannya agak sulit untuk dilewati dengan mobil.

Jadi, personil yang akan berangkat malam itu adalah; Saya, Taher dan tiga anak Pecinta Alam, Indra, Gery dan Amor satu lagi adalah Halid - jurnalis dari Ambon.







Keapesan demi keapesan yang menimpa

Perjalanan ke Letan kami prediksikan akan memakan waktu satu jam lebih.

Diawal saya mengendarai motor sewaan tersebut setirnya tampak sudah tidak enak, dan agak oleng jika berbelok ke kanan, namun hal tersebut tidak terlalu saya hiraukan. Dua puluh menit berikutnya ketika motor saya sedang melaju sedang (sekitar 60 km/ jam) tiba-tiba terdengar bunyi "dor"!!!, sepeda motor yang saya gunakan-pun oleng dijalan menanjak yang berkelok-kelok, saya sontak mengikuti jalannya motor dengan sedikit-demi sedikit mengerem secara bersamaan antara rem depan dan belang, sukurlah tidak terjadi kecelakaan, batin saya.

Sekitar satu kilometer kami menemukan, bengkel yang masih buka, setelah diperiksa ternyata kami harus ganti ban dalam, karena pecah! Setelah diperiksa lebih teliti ternyata penyebabnya adalah ban luar yang bolong dengan diameter kurang lebih 3 cm.



Waduh pikir saya bagaimana mau melanjutkan dengan kondisi seperti ini, tapi kami fikir sudah tanggung "The Show Must Go On'!!!, kami pun melanjutkan dengan berjalan lebih pelan dan terkontrol.



Perjalanan yang saya lalui memang cukup mendebarkan kami harus melewati jalan-jalan yang curam dan berkelok-kelok, kondisi ini mengingatkan saya pada perjalanan antara Bireun – Takengon Aceh, atau Alas Songgoriti di Malang. Dimana sepanjang kanan-kiri jalan yang kami temui adalah hutan, atau jurang. Kami beristirahat di daerah yang bernama Telaga Kodok, tempat dimana Ambon Tivi memancangkan pemancarnya, selepas mengisap sebatang rokok kami bermaksud meneruskan perjalanan, entah mengapa saat menghidupkan mesin motor dengan starter tangan posisi saya tidak duduk diatas motor, dan konyolnya saya jga tidak sadar bahwa posisi persneling masuk di gigi satu, alhasil motor nyelonong sekitar semeter dan terguling! Bagus, tidak ada kerusakan berarti.



Sekitar Satu setengah jam sudah kami mengendarai motor dan terhitung kami sudah membelah tiga anak sungai kecil yang dangkal serta jernih airnya.



Sekali lagi, keapesan menimpa kami, lima ratus meter dari tempat tujuan yang jalannya sudah menurun, Motor yang ditumpangi Indra dan Gery mogok! Setelah diupayakan tidak juga kunjung berhasil, akhirnya motor kami tuntun dikegelepan malam yang menyelimuti.



Mitos setempat dan pandangan mata

Kamipun tiba dipantai Letan, tempat penggodokan anak-anak baru pecinta alam di Maluku.

Tempat itu ternyata hanya dihuni oleh sepasang kakek-nenek yang sangat baik hati…..

Setelah bersalaman dan berbasa-basi, kamipun segera meggelar perlengkapan berupa, Matras gunung, kompor gas jinjing dan segala perbekalan makan dan minum.

Sambil memasak, kakek…..menemani kami dengan cerita-cerita seputar ke "khas'an daerah tersebut mulai dari ikan hiu yang kerap menyambangi bibir pantai yang berbatu, hingga mitos penunggu pantai yang berwujud ikan layaran! Kami mendengarkannya dengan penuh perhatian.





Sampai kemudian sang kakek menanyakan apakah kami akan pergi mengail dengan perahunya? (pertanyaan yang sebenarnya memang sudah kami nanti-nantikan)…..

Saya langsung menjawab dengan sigap ya, sambil menyodorkan perangkat memancing yang baru kami beli sore tadi.

Dengan sigap, kakek tadi-pun langsung mengambil bungkusan tersebut dan merangkainya menjadi rangkaian glosor sederhana khas nelayan setempat, dengan tiga kumis.

Kamipun dipinjami "kelosan" memancingnya yang berkumis lima dan bertimah cukup besar.

Selagi kakek itu meracik rangkaian, kamipun pergi kebibir pantai untuk mengiris cumi yang akan dipakai sebagai umpan.



Perahu Terbalik!

Setelah salin (berganti kaos dan celana pendek) akupun bersiap-siap menaiki perahu, kawan mancing malam itu adalah Amor yang sudah berpengalaman mendayung perahu, dan beberapa kali memancing ditempat tersebut.

Perahu si kakek ditambatkan sekitar lima puluh meter dari gubuk tempat kami berkumpul.

Sungguh saya tak mengira bahwa ternyata perahu yang akan kami pakai memancing sejenis perahu cadik atau orang Ambon biasanya menyebutnya dengan perahu Semang. Perahu ini berukuran kurang lebih 40 cm X 2,5 m dengan dua buah dolken (kayu bulat) sebagi tambahan sayap dikanan-kirinya.



Meski agak bergetar ciut, namun karena niat mancing begitu kuat rencana terus dijalankan!

Amor mulai mendayung dari bagian belakang perahu. Tidak butuh waktu lama, kamipun sampai di spot yang dituju yang jaraknya kurang lebih hanya satu kilometer dari bibir pantai-basecamp kami.

Dikegelapan malam itu, kami memancing dengan diterangi pelita yang dibuat dari botol kratingdaeng yang diberi sumbu.



Setelah memasang isrisan cumi di lima mata kail, akupun mulai menurunkan umpan, cukup mengagetkan memang, ternyata setelah kutunggu beberapa lama, timah pemberat tak juga kunjung sampai didasar. Iseng aku bertanya heran kepada Amor, " mor, dalam juga ya?, padahal pantai masih kelihatan dekat."

"iya bang" jawab Amor. Setebentar kemudia dia melanjutkan lagi "disini pantainya tidak landai bang seperti dikebanyakan daerah lain, disini begitu lima puluh meter dari pantai, dasarnya langsung curam. Jadi memang kalau memancing disini kita nggak perlu terlalu jauh.".

Singkat cerita, setelah kutunggu 5 menit tak ada satupun tanda-tanda umpanku disenggol ikan, sambil menarik nafas penasaran, akupun menarik tali pancingku.

Ketika umpan sampai datas, aku lihat ternyata memang masih utuh, kali ini aku jatuhkan lagi umpan itu disebelah kanan perahu.

Sambil menunggu timah menyentuh dasar, aku berfikir skeptis, wah jangan-jangan salah tempat nih, katanya ikan banyak…..tiba-tiba duuutttt…senarku terasa ditabrak sesuatu, dengan reflex akupun menyentakkan tali pancing…..agak berat terasa, aku yakin ada ikan yang nyangkut disalah satu mata kailku.

Dengan agak terburu-buru akupun menarik keluar sang ikan sambil panasaran kira-kira ikan apa yang akan jadi korban pertama….

Tak berapa lama muncullah ikan yang dinanti-nanti….KAKAP MERAH dengan berat kurang lebih satu kilogram.

Apesnya, ketika ikan itu sampai diatas, dia memberontak (menggelepar) sehingga membuat lima rangkaian mata kail menjadi kusut.

Setelah ikan berhasil aku lepaskan dan aku taruh dibawah kakiku, akupun berusaha untuk memperbaiki kekusutan tadi…

Semenit berlalu tanpa ada tanda-tanda akan berhasil, karena memang cukup rumit dengan berbekal penerangan dari pelita yang sangat kecl, begitu juga menit berikutnya.

Sekitar lima menit kemudian, Amor berinisiatif untuk membantu, "sini bang aku Bantu!", sambil berkata begitu, Amor melangkahkan kakinya mendekatiku yang berada diujung perahu. Sayangnya dia kurang perhitungan, dia melangkah dengan menginjak terlalu dalam bagian kanan perahu sehingga membuat perahu itu miring cukup signifikan untuk selajutnya membuat kami TERBALIK!



Pertarungan Hidup Mati Setengah Jam

Otak-ku sepertinya kehilangan memori saat-saat perahu terbalik, yang aku sadar adalah aku sudah berpegangan dipinggir semang, tepatnya di kayu dolken sebelah kanan.

Amor dan aku panik, Amor setengah berteriak bilang, "bang! Abang nggak apa-apa?" aku bilang ke dia " aku baik-baik Saja".

Amorpun lantas berpegangan juga di dolken bagian ujung satunya.

Otakku berfikir ekstrim, "gawat nih, Amor anak local yang suka berenang dan mendaki gunung saja panik, gimana aku yang cuma pendatang……"

Lantas aku teringat cerita kakek tadi sebelum kami pergi memancing, bahwa didaerah ini HIU sering muncul hingga ke bibir pantai……



Tak menunggu lama ternyata Amor berhasil menguasai dirinya, sambil berpegangan, ia masih sempat menggulung pancingnya…gerakan menggulung itu membuat keadaan perahu semakin tidak menentu timbul-tenggelam.

Dengan setengah panik akupun memintanya untuk tidak meneruskan upayanya menyelamatkan pancing.

Amor akhirnya mengehentikan juga upayanya. Setelah itu, ia pun mengajak aku untuk membalikkan perahu. "bang kita balikkan lagi perahu ini, kita angkat saja dolken yang kita pegang ini sama-sama" begitu instruksinya.

Akupun menyetujuinya. Aku memberi aba-aba kepadanya dihitungan ketiga kami akan sama-sama mengangkat dolken tempat kami berpegangan. Satuuu….dua…..tigaaaa ….kamipun mulai berusaha mengangkat sisi sebelah kanan perahu.

Perahu bukannya berbalik, justru kami yang tenggelam, karena posisi kaki kami memang tidak menyentuh (berpijak) apapun.

Setelah dua kali melakukan upaya pembalikkan dan gagal, akupun berinisiatif untuk menghentikannya dan mencoba untuk berteriak memanggil kawan-kawan kami yang berada dipantai.

TAAHER!!!,

HALIDDD!!,

INDRA!!!

Sangat kuat kami berteriak dimalam yang sunyi itu, tapi jawaban tak kunjung kami terima. Setengah putus asa, kamipun melihat kesekeliling, itupun sia-sia karena malam begitu gelap jarak pandang kami mungkin hanya sekitar lima belas meter.

Digelepan malam itu, sambil berpegang diujung dolken semang, tiba-tiba aku teringan Athena, anakku yang masih berusia dua tahun….aku hanya bisa pasrah sambil menatap bintang, "Tuhan tolong selamatkan kami, Athena masih butuh orang tua...."



Ingatan akan keluarga membuat aku sekali lagi berteriak sekuat tenaga…TAHEEERR, TOLOOONG PERAHU KAMI TERBALIK!!!!.

Tak lama, samar-samar aku mendengar suara…"WOOOOY, KENAPA???

"KAMI TENGGELAM!!!" jawabku..

Taherpun kembali berteriak " SERIUS NIH???, DISINI TIDAK ADA PERAHU LAGIIII!!!"

Amor-pun membalas "KALIAN TOLONG CARI BANTUAN NELAYAN DIDESA, CEPAT!!!"

Suara kawan-kawan dipantai terdengar "COBA UNTUK BERTAHAN, KAMI CARI BANTUAN!!".



Tak lama, raungan motor mulai terdengar, tanda kawan-kawan dipinggir pantai sedang berusaha mencari bantuan,

Akupun mulai tenang, tapi, samar-samar kurasakan, lengan, kaki, badan dan kepalaku gatal-gatal…aku mencoba melihat, ternyata SEMUT MERAH!

Ya semut-semut itu selama ini menghuni perahu secara diam-diam, ketika perahu terbalik, otomatis merekapun terendam air, sehingga nasib merekapun kurang lebih sama denganku mencoba MENYELAMATKAN HIDUP!

Aku tidak lagi ingin membunuh semut-semut itu, karena aku yakin mereka hanya sekedar ingin berpegangan ditubuhku.

Yang ingin kubunuh saat itu adalah rasa takutku akan kematian dan tentunya juga rasa GATAL akibat gigitan semut.



Pertolongan Datang

Ditengah berkecamuknya pikiranku, tiba-tiba samara tapi pasti, aku mendengar suara mesin perahu dikejauhan. Ini dia, ini pasti perahu nelayan yang berhasil dihubungi oleh kawan-kawan didarat, pikirku…

Kamipun mulai berteriak lagi, DISINI PAK, KAMI DISINIIII…..Lebih kurang lima menit, dikejauhan kami melihat seberkas sinar - yang aku yakin itu adalah lampu petromak dari perahu yang kami panggil….

Lima menit berikutnya perhau itu hanya tinggal berjarak sekitar lima puluh meter didepan kami, bapak nelayan diperahu itu kini giliran yang berteriak, "KALIAN DIMANA???" deg! jantungku berdebar….ternyata mereka memang belum melihat kami, karena pekatnya malam yang membatasi pandangan.

Setengah berteriak, Amor memberi tanda dengan menyipratkan air laut keatas kemudia disusul dengan teriakan, "KAMI DISINIIII!!!"

Sebentar kemudian, perahu berhasil mendekati kami, ukuran perahu itu cukup besar mungkin sekitar 8 meter X 3 meter dengan tenda plastik ditengahnya. Dibawah tenda itu aku melihat dua orang dengan wajah penasaran mencari kami, satu orang lelaki tua berusia sekitar 60 tahun, disebelahnya wanita yang usianya tidak jauh berbeda.

Tak lama kamipun mulai dibimbing mereka utuk naik perahu, namun mungkin karena panic, aku baru sadar ternyata tenagaku habis, aku tak sanggup naik keperahu besar tersebut. Maka, Amor berinisiatif mendorong aku dari bawah, sementara lelaki pemilik perahu itu menarik lengan kananku.

Ketika berhasil sampai diatas, aku langsung mencium tangan sepasang nelayan yang telah menyelamatkan hidupku itu. Sementara Amor meminta kepada mereka untuk membantunya membalikkan perahu yang terbalik tadi.

Tak membutuhkan waktu lama, perahu berhasil diterbalikkan, uth dengan semua perlengkapannya, ini bukan hal aneh krn mungkin ketika perahu itu terbalik dengan cepat tadi, udara terperangkap dibadan perahu, sehingga barang-barang itupun menjadi selamat dan utuh!



Kedua perahu inipun langsung menuju bibir pantai dimana tempat kawan-kawan kami menunggu bersama pemilik semang yang kami pinjam.

Ketika sampai dipingir pantai kawan-kawan langsung berlarian menghampiri kami, dengan wajah yang kubuat tegar, akupun lompat dari perahu dan ermaksud menuju daratan. Sekali lagi! Ternyata motorikku masih syok! lututku seperti tak bertenaga, akupun goyah dan jatuh terduduk.



Buih Tongkol dipinggir Pantai

Sebetulnya sudah dari diatas perahu penolong tadi aku berfikir untuk sekedar memberi ucapan terimakasih dalam bentuk uang. Karena kufikir aku baru saja menerima honor sebagai pemateri yang jumlahnya lumayan, tidak ada salahnya kubagi dua dengan sepasang nelayan tua yang telah menyelamatkanku.

Ketika aku sampai didarat, ternyata, nelayan itu bermaksud langsung pergi dengan perahunya, akupun menghampirinya dan memintanya untuk singgah sebentar sambil aku nyatakan keinginanku untuk memberinya uang. Tapi jawaban mereka sekali lagi membuat aku terhenyak "ah sudahlah, disini sering kejadian seperti ini, kami biasa tolong menolong, kalau kami tidak menolong maka kami yang akan celaka, kata kakek tua tesebut.

Aduuuh malunya aku…selama ini aku berfikir sebagai orang kota yang materialistis, segala sesuatunya sering diukur hanya dengan uang. Ternyata dipedalaman Malku ini aku kembali mendapatkan pelajaran yang berharga, bahwa uang bukan segalanya!.

Sambil melambaikan tangan aku berkata lirih…."terimakasih kek, kau bukan saja menyelamatkan aku, tapi membuat aku sadar bahwa hidup itu bukan hanya soal uang…."



Tak lama kemudian, aku dan Amor sudah berganti baju, kawan-kawan yang lain pun sudah menyalakan api unggun selain untuk menghangatkan badan, juga untuk membuat kopi dan indomie, tak lupa memanggang satu-satunya hasil tangkapan kami, KAKAP MERAH UKURAN SATU KILO!



Sambil ngobrol bercerita yang diiringi gelak-tawa, kakek pemilik semang yang terbalik mengatakan "sayang sekali ya, kalau tadi kalian tidak terbalik, seharusnya ikan kakap merah yang akan kalian dapatkan banyak, karena jenis ini selalu hidup dalam kelompok besar" terangnya…



Tak terasa, Shubuhpun dating disusul matahari yang muncul malu-malu…

Ditengah sinar matahari yang keemasan itulah, aku bersama kawan0kawan melihat buih seperti air mendidih dijarak tak lebih hanya lima puluh meter dari pantai…

Bapak tua pemilik semang itu pun menjelaskan bahwa buih itu dihasilkan oleh ikan ratusan tongkol yang sedang mengejar mangsa ikan kecil…

Kamipun hanya bisa melihat dan membayangkan saja…



Jalan pulang masih belum mulus

Karena aku ditunggu pesawat pukul 10.30, maka pukul 08.00 akupun harus bersiap-siap pergi, setelah pamit dengan sepasang kakek dan nenek pemilik semang, maka akupun pergi kebandara dengan diantar sepeda motor oleh Halid.

Setelah jalan sekitar setengah jam, malang kembali tak dapat ditolak, ditikungan yang cukup tajam, kembali ban sepeda motor yang kami tumpangi pecah.

Akupun berinisiatif meminta HAlid jalan duluan untuk mencari bengkel tambal ban, sementara aku sendiri jalan kaki.

Setelah berjalan kaki sekitar satu kilometer, akhirnya aku melihat Khalid dibengkel tengah menunggui bannya dibongkar.

Ternyata ban kembali pecah…karena aku dikejar waktu, maka kamipun sepakat bahwa aku harus melanjutkan dengan ojek untuk sampai kebandara.

Setelah meninggalkan uang beberapa puluh ribu untuk membeli ban, akupun pamit pada Halid.



Dibandara Pattimura, aku masih sempat untuk minum kopi sambil menunggu pesawat tiba, sambil telpon-telponan dengan Halid dan Taher menertawakan kejadian tragis dan kesialan demi kesialan yang kami temui.

Singkat cerita, aku sudah berada dipesawat yang akan membawaku ke Jakarta. Senang sekali pikirku karena akan berkumpul lagi dengan anak dan istriku yang tentunya sudah menunggu.

Ternyata "terapi jantung"ku belum selesai, begitu pesawat lepas landas, angina kencang membuat pesawat menjadi sedikit oleng dan membuat panic para penumpang….aku setengah protes kepada Tuhan bergumam…"apalagi sih??, apa yang salah, tapi terserahlah kalaupun ini harus berakhir dengan hal yang fatal aku sudah pasrah…" untungnya sang pilot piawai mencari jalan diangkasa, sekitar sepuluh menit kemudian kondisi bisa normal kembali.



Sesampai dijakarta, aku hanya bisa bertanya dalam hati…kesialan apalagi yang menungguku dirumah…







Pelajaran: Jangan Tinggalkan Baju Pelampung