Rabu, 19 Maret 2008

Mancing udang tambak ala Semarang

Mancing udang tambak ala Semarang

Sedikit berbeda dengan mancing udang di tambak Jakarta... rangkaian pancing di tambak2 Semarang adalah mirip cakar... dan umpannya pake daging kambing.
Coba saja lihat foto2 berikut :

Foto 1 :
mata kail seperti cakar



Foto 2 : hasil yang didapat dibandingkan dengan korek api


Foto 3 : Hasil total dalam semalam



Rabu, 05 Maret 2008

Obituari Heru Gombong/Hansiong

Obituari Heru Gombong/Hansiong

---------- Forwarded message ----------
From: Bambang Setiawan

Sebetulnya aku sudah lama mengenal keluarga mereka sejak tahun 1981. Kakaknya, Iwan alias Wawan, adalah teman satu kost di Jalan Gereja Purwokerto. Bahkan kami satu tempat tidur di kamar. Aku di SMA 2 dan Iwan di SMA Bruderan. kami berdua beberapa kali mancing di sungai belakang kost, namun tidak pernah dapat.
Beberapa kali, selama di kost, ayahnya datang menjenguk. Pernah sekali ia membawa adik Iwan yang bernama Hansiong juga ke kost. Kurasa waktu itu dia masih SMP.
Setelah hampir dua puluh tahun, barulah aku ketemu lagi dengan Hansiong. Itu pun aku sudah lupa wajahnya. Hanya ketika diterangkan oleh Soni bahwa itu adiknya Iwan, aku lamat-lamat mengingatnya.
Aku lupa tahun berapa pertama mancing dengan Heru alias Hansiong. Mungkin sekitar tahun 2000-an, berbarengan ketika pertama kali mancing bersama Soni. Waktu itu, Hansiong masih sering pergi bersama Hani, kemana-mana selalu berdua.
Trip pertama kami, casting di Menganti memang gagal karena ombak besar. Tapi selanjutnya, cukup banyak trip berhasil yang kami lalui bersama Hansiong. Salah satunya adalah ketika pada suatu hari cuaca Menganti sangat bagus: angin sepoi-sepoi, di kejauhan terlihat garis hitam, jutaan mungkin milyaran ikan sarden menepi. Di belakangnya, tampak kejaran ikan-ikan besar sesekali membuat percikan di permukaan. Tapi pergerakan ikan masih terlalu jauh. Setelah sekian kali mencoba dengan popper, minnow, dll, tak juga menghasilkan ikan, akhirnya saya coba umpan pake jig. Jig seberat 60 gram saya lempar jauh-jauh. Eh, ternyata dikejar ikan-ikan kue. Akhirnya, satu ekor ikan berhasil didaratkan. Tidak besar, mungkin di bawah sekilo. Teman saya, Agus, juga mendapat kerapu. Dan, teman yang lain, Hani, kenurnya dibetot ikan. Setelah bertarung 5 menit kenurnya putus.
Kejadian hari itu membuat kami bersemangat. Segera saya sms Oy Semarang. Esoknya Oy dan Om Pram datang. Oy membawa cukup banyak jig dengan berat 35-60 gram.
Sorenya, casting membuahkan banyak ikan kue. Om Pram yang paling banyak. Makin malam, ikan-ikan sarden makin minggir ke pantai. Pada tengah malam, pasir pantai menjadi berwarna putih. Inilah untuk pertama kalinya saya menyaksikan "berkah" Tuhan di pantai. Sebuah pemandangan fantastis: kita berdiri di atas gelimpangan ribuan ikan-ikan kecil terdampar. Entah kenapa, saya dan semua teman tak berminat untuk memungut satu ekor pun ikan-ikan tersebut. kami hanya terpaku memandanginya. Tak lama kemudian, nelayan datang membawa tong-tong ikan dan segera meraup berkah itu.
Kami pulang ke tempat Pak Nanang dan makan bersama dengan lauk hasil tangkapan kami. Masakan istrinya Pak Nanang memang enak, sambelnya top. Waktu itu masih warung kecil, tak ubahnya warung-warung lain. Tapi kini, kalau teman-teman ke sana, mungkin tidak akan kebagian tempat duduk karena dari mana-mana orang berdatangan untuk sekedar makan seafood yang dimasak oleh istrinya pak Nanang. Warung Pak Nanang kini telah menjadi restauran paling top di seantero Gombong, Sumpiuh, Kebumen dan sekitarnya.
Hansiong kelihatannya baru mengenal jig pada momen itu. Ia meminjam satu jig milik Oy yang terkenal ampuh. Ajaibnya, esoknya jig itu sudah dipulangkan ke tangan Oy sambil memperlihatkan hasil jiplakannya yang sama persis termasuk catnya. Itulah pertama kalinya aku takjub dengan kemampuannya.
Hari-hari berikutnya, kalau saya pulang ke Sumpiuh, Hansiong menjadi teman setia yang selalu menemani kemana pun kami ingin mancing. Sering sekali ia membagikan minnor atau popper hasil buatannya.
Hari-hari selanjutnya juga mulai bergabung ke dalam tim mancing, Budi Kebumen. Lelaki gempal ini juga menjadi teman yang mengasyikkan.
Sayangnya, beberapa tahun menjelang akhir hayatnya, tiga sahabat, yakni Hansiong, Hani dan Budi Kebumen terpecah. Situasi persahabatan memburuk. Mungkin juga ini terkait dengan persoalan ekonomi atau sebab-sebab lain.
Pernah, ia mengatakan bahwa ia juga merasa kian dijauhi oleh teman-teman yang dulu mengenalnya dan menjadi sahabatnya.
"Bagiku, ini adalah urusan perut istri dan anakku. Aku harus memikirkan kelanjutan usaha yang bisa tetap menjamin dapur ngebul. Terkadang aku merasa nggak enak sama teman-teman karena kasih harga yang mahal. Tapi aku nggak punya pilihan. Aku nggak mau menghancurkan harga yang sudah ditetapkan oleh penyalur barang-barangku. Jadinya serba salah... Aku tidak lagi bisa seperti dulu...gak bisa lebih murah. Usahaku hanya tergantung dari ini...."
Antara teman dan perut......
Selama beberapa tahun belakangan, ungkapan sensitif ini sering kali terlontar di tengah percakapan kami. Mungkin, ini juga salah satu yang tetap dipikirkannya, di tengah ketegarannya menghadapi penyakit yang merenggut kekuatannya.
Saya percaya bahwa ia adalah sosok yang sangat baik. Hanya, konsistensinya kadang membuatnya harus kehilangan.
Selamat jalan Heru.....Hansiong. Aku akan selalu ingat kegigihan kita memburu hampala di Wadaslintang.
Istrinya mengucapkan terimakasih atas bantuan dan sokongan teman-teman kepada Hansiong. Semoga teman-teman juga bisa memaafkan apa pun kesalahan yang pernah dilakukannya.
Bst

Adi Wisaksono <hampala234@yahoo.co.id>
Rumah Makan Ayam Goreng Kembang Sari